Minggu, 03 Desember 2017

manajemen sistem informasi publik

1.      Mengapa perlu mempelajari system informasi public?
2.      Konsep-konsep yang berhubungan dengan system informasi public
3.      Bagaimana penerapan teknologi pada operasi di lembaga pemerintahan dan swasta?
4.      Uraikan tentang anatomi computer dilengkapi dengan gambarnya!
5.      Uraikan/jelaskan tentang lemahnya data base kepegawaian!
Jawaban:
1.      Secara garis besar, ada 3 hal yang menjawab berbagai pertanyaan tersebut. ketiga hal tersebut adalah:
a.       Pengaruh globalisasi
Globalisasi adalah memudarnya batas-batas negara dalam kepentingan bisnis, pemerintah dan masyarakat. pada masa lalu, siaran televisi dan siaran radio hanya ditunjukkan untuk suatu wilayah atau suatu negara saja, sekarang tidak ada yang bisa mencegah hal itu. Dulu bank hanya perlu memikirkan nasabah yang ada di wilayahnya saja, sekarang nasabah harus tetap dilayani meskipun berada di belahan bumi yang lain. dulu pendidikan hanya di negara maju, seperti Amerika dan Australia, pelajaran dari negara lain seperti Korea, Indonesia, dan negara Asia lainnya menjadi sesuatu yang sangat penting.
b.      Perubahan lingkungan bisnis
Selain pengaruh globalisasi, lingkungan bisnis juga mengalami perubahan yang luar biasa. Pada masa dulu, perusahaan hanya perlu memikirkan dirinya sendiri dan menganggap perusahaan lain sebagai pesaing yang harus dikalahkan misalnya saja sebuah rumah sakit, adalah tempat untuk merawat orang sakit, sehingga isinya hanyalah bangsal untuk para pasien dan beberapa ruang untuk operasi. akan tetapi pada masa sekarang, di dalam rumah sakit jsuga ada apotek, warung telekomunikasi atau warnet.
c.       Perkembangan dunia industry
Dunia industri mengalami beberapa perubahan dan perkembangan mendasar. Pada abad ke-19 Industri terbesar dunia masih berupa pertanian. Pada tahun 1920-an, yaitu setelah perang dunia 1, Industri manufaktur mulai tumbuh. mesin-mesin diciptakandan pada tahun 1960-an industri jasa (terutama ansuransi) mulai mengalami pertumbuhan. dan tahun 1970-an industri yang berhubungan dengan pengetahuan dan informasi mulai tumbuh dengan pesat.
2.      Konsep-konsep:
a.       System, konsep dasar dari sistem adalah sekumpulan item-item yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Sebuah sistem dapat kita temukan dalam keseharian kita seperti sistem pencernaan, sistem pernafasan dan masih banyak lagi system yang lain. Namun deskripsi mengenai sistem tidak selalu sama karena sistem akan terus berkembang sesuai dengan konteks kegunaan dari sebuah sistem.
b.      Software, Secara umum perangkat lunak (software) terbagi menjadi dua yaitu system operasi dan perangkat lunak aplikasi. Sistem operasi digunakan untuk menerima perintah dasar yang diberikan sebagai masukan. Sedangkan perangkat lunak aplikasi merupakan program siap pakai yang digunakan untuk aplikasi pada bidang tertentu.
c.       Aplikasi Sistem Informasi Publik (SIP), merupakan aplikasi yang secara independen dibangun oleh Badan Publik untuk kepentingan pengelolaan, penyampaian informasi dari Badan Publik dan permohonan informasi dari publik (masyarakat) kepada Badan Publik. Penamaan terhadap aplikasi ini secara independen juga ditentukan oleh Badan Publik dan PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) setempat, dengan koridor nama aplikasi tersebut harus mampu dipahami publik secara mudah. Aplikasi ini dibangun untuk mengimplementasikan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukan Informasi Publik atau yang sering disebut sebagai UU KIP.
d.      Perancangan berorientasi objek, analisis berorientasi objek adalah cara baru dalam memikirkan suatu masalah dengan menggunakan model yang dibuat menurut konsep sekitar dunia nyata. Dasar pembuatan adalah objek, yang merupakan kombinasi antara struktur data dan perilaku dalam satu entitas. Pengertian "berorientasi objek" berarti bahwa kita mengorganisasi perangkat lunak sebagai kumpulan dari objek tertentu yang memiliki struktur data dan perilakunya.
e.       UML (Unified Modeling Language), adalah sebuah "bahasa" yang telahmenjadi standar dalam industri untuk visualisasi, merancang danmendokumentasikan sistem piranti lunak. UML menawarkan sebuah standaruntuk merancang model sebuah aplikasi atau sistem.Permodelan (modeling) digunakan untuk menyederhanakan permasalahanyang kompleks agar lebih mudah dipelajari dan dipahami.Tujuan permodelan(modeling) sendiri adalah sebagai sarana analisis, pemahaman, visualisasi,komunikasi, serta dokumentasi yang sangat bermanfaat untuk menelaahperilaku perangkat lunak yang akan dikembangkan.


Senin, 27 November 2017

resume MSIP karangan Gordon B. Davis

Selama ini terdapat perkembangan kuat dalam perangkat keras komputer. Hal ini akan berlangsung terus. Perangkat keras akan makin cepat, makin kecil, dan makin kurang harganya. Peyimpanannya akan memiliki kapasitas yang lebih besar dan jangkauan yang lebih cepat serta tetap lebih murah harganya.masukan dan keluaran data akan lebih cepat, makin langsung tersedia bagi pemakai serta lebih murah bergaya. Perangkat keras akan terus menurun harganya sebagai suatu presentase biaya total dari sistem informasi yang berlandaskan komputer.
Kesimpulan ini terutama didasarkan pada teknologi yang berubah yang memperkecil ukuran dan biaya perangkat keras. Di bawah ini dapat diikuti pengembangan tersebut:
Subsistem komputer


Pengolahan inti/ pusat (central precessor)




Penyimpanan (memory)



Peralatan masukan/keluaran (input- output devices)


Komunikasi data (Data communication)


Kepadatan sirkuit komputer menjadi makin besar dan hasilnya makin baik (persentase sirkuit yang diproduksi tanpa suatu kesalahan). Suatu ramalan tahin 1970 menyatakan bahwa biaya pusat pengolah dalam 1980 akan menjadi sepersepuluh tahun 1970. Keampuhan pengolah pusat nenjadi makin meningkat.

Penyimpanan “on-line” yang tanpa batas (misalnya, 10 pangkat 13 sampai 10 pangkat 14 bits) diharap dapat tersedia dengan harga murah. Suatu peralatan penyimpanan dengan biaya/ jangkauan yang berbeda akan tersedia.

Dalam tahun 80-an, mungkin sekitar 80% dari biaya perangkat keras akan diperuntukkan alat tambahan (peripherals). Suatu peningkatan pemakaian terminal untuk pemasukan dan jangkauan diharap akan terjadi.

Perkembangan yang meningkat terjadi tahun 1970-an. Bell System merencanakan jaringan telepon sekitar 1980 sebesar empat kali tahun 1970. Kecepatan tranmisi akan meningkat. Sistem komunikasi data yang bersaing akan tersedia


Pengembangan perangkat lunak cenderung untuk ketinggalan dibandingkan perangkat keras. Terdapat kecenderungan untuk penyajian perangkat keras bagi perangkat lunak tradisional.  “Complier” akan dikerjakan oleh program mikro dan “circuity”. Perkembangan menjurus pada perangkat lunak standar karena mutunya dapat didesain di dalam sistem yang demikian itu. Perkembangan penting lain adalah gejala perusahaan membeli sebagian besar perangkat lunak bagi sistem SIM dan menahan diri untuk pembuat perangkat lunaknya sendiri.
Teknologi Informasi telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan terbukti sangat berperan dalam kegiatan perekonomian dan strategi penyelenggaraan pembangunan.
Keberadaan sistem informasi mendukung kinerja peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi pemerintah dan dunia usaha, serta mendorong pewujudan masyarakat yang maju dan sejahtera.
Dalam mendukung penyampaian suatu informasi maka dimanfaatkanlah teknologi informasi, yang menggunakan teknologi Komputer sebagai media utama dalam penyampaian informasi.
Kemajuan teknologi informasi mempengaruhi segala Aspek Kehidupan salah satunya yang menonjol adalah penggunaan Teknologi Informasi dalam Bidang Ekonomi. kemajuan ini memberikan dampak positif dalam bidang perekonomian diantaranya yaitu :
1.      Pertumbuhan ekonomi yang semakin Tinggi, Hal ini ditunjukan dengan banyaknya perusahaan besar menggunakan Perangkat dan sistem yang berbasis Teknologi Informasi.
2.      Tingkat Produktifitas semakin tinggi,dalam hal ini di dunia Industrialisasi dikarenakannya adanya Otomatisasi dalam bidang perkantoran.
3.      Terjadinya Industrialisasi di berbagai daerah,Hal ini ditunjukan semakin banyak kota yang berkembang untuk maju,dan tidak hanya terjadi di kota- kota besar saja.
Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi. dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan dan dirasakan saat ini dengan berkembangnya E-Commerce memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan Produsen yang menjual suatu produk sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko.


Jumat, 17 November 2017

Potensi Ontologi Administrasi

UJIAN TENGAH SEMESTER
POTENSI ONTOLOGI ADMINISTRASI
Dosen: Drs. H. Ahmad Syamsir, M.Si.

                                            
24      1168010203 Novi Fadia



ADMINISTRASI PUBLIK/ E/II
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017


1.      Pengertian Potensi
Secara umum, potensi adalah sebuah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang sangat mungkin untuk dikembangkan, sehingga pada intinya potensi sendiri berarti suatu kemampuan yang masih bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Pada manusia sendiri sangat penting untuk memahami potensi diri sendiri, sehingga dapat mengembangkan kemampuan yang tepat dan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Dengan mengembangkan potensi diri, anda akan menjadi lebih bermanfaat dan akan merasa lebih hidup apabila anda benr-benar memahami potensi diri dan mengembangkannya.
Ada banyak sekali pakar yang mencoba mendeskripsikan arti kata dari potensi, salah satu pakar yang mencoba mendeskripsikan kata potensi adalah Wiyono. Menurutnya potensi memiliki arti kemampuan dasar dari seseorang yang masih terpendam dan mampu untuk dimunculkan menjadi kekuatan yang nyata. Dari pendapat Wiyono tersebut potensi dapat diartikan sebagai kemampuan yang masih terpendam dan siap untuk diwujudkan dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia itu sendiri. Sementara menurut Majdi, potensi adalah kemampuan yang masih bisa dikembangan lebih baik lagi, secara sederhana potensi merupakan kemampuan terpendam yang masih perlu untuk dikembangkan.
Potensi terbagi menjadi beberapa jenis, salah satu jenisnya adalah potensi berfikir. Potensi berfikir sendiri dimiliki oleh semua manusia di dunia ini, hal ini membuat manusia dimungkinkan untuk mempelajari hal-hal baru dan juga menghasilkan ide-ide dan juga pemikiran baru ataupun informasi baru. Selain itu ada juga potensi fisik yang merupakan potensi yang dimiliki manusia dalam sisi fisik yang biasanya dapat melakukan gerakan yang efektif dan efisien. Orang yang memiliki potensi fisik akan mudah mempelajari segala macam olahraga dan segala jenis permainan dalam olahraga seperti sepakbola, bulu tangkis, dan lain sebagainya.
2.      Pengertian Ontologi
Ontologi merupakan bagian mendasar dari filsafat, baik secara subtansial maupun ditinjau dari segi historisnya, karena kelahiran atau keberadaan ontologi tidak lepas dari peran filsafat. Sebaliknya pula perkembangan ontologi memperkuat keberadaan filsafat.
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Dalam filsafat juga terdapat struktur, yang dimaksud struktur disini cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat. (Ahmad Tafsir, 2015: 66)
Menurut bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani On/Ontos yang berarti ada dan Logos berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada. Menurut Ensiklopedi Britannica yang juga diangkat dari konsepsi Aristoteles, ontologi adalah teori atau studi tentang being/wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika, yaitu studi filosofis untuk menentuan sifat nyata yang asli (real nature) dari sutau benda untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang “yang ada”. “Yang ada” disini memiliki penegertian yaitu: istilah ini menunjuk terhadap apa-apa yang benar-benar ada di dunia, baik “yang ada” sebagai kenyataan, yang tampak depan mata ataupun dapat dicerap oleh pancaindera. (Masykur Arif Rahman, 2013: 18) Jadi, ontologi adalah pemikiran tentang yang ada dan keberadaanya.
Pemikiran ontologi dalam administrasi tentunya diawali dari pembuktian, atau dengan kata lain penyelidikan yang dilakukan secara sadar dan mendalam sampai ke akar permasalahan yang sesungguhnya dan dapat diberlakukan kapan saja dan dimana saja serta relatif fundamental kedudukannya. Ontologi ilmu administrasi mencari pengertian menurut asal mula dan akar kata yang paling terdalam.
Dengan kata lain, ontologi administrasi adalah pemikiran yang berdasarkan hakikat dan makna yang dikandung ilmu administrasi itu sendiri sebagai salah satu cabang ilmu administasi.
Ilmu administrasi merupakan hasil pemikiran dan penalaran manusia yang disusun berdasarkan dengan rasionalitas dan sistematika yang mengungkapkan kejelasan tentang objek formal, yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi yang dilakoni oleh manusia dan objek material, yaitu manusia yang melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerja sama menuju terwujudnya tujuan tertentu.
Aliran dalam ontolog itu ada 3, diantaranya:
a.         Monoisme, aliran ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Aliran ini terbagi menjadi dua paham, yaitu Materialisme dan Idealisme.
b.        Dualisme, aliran ini yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentanga, yaitu materialisme dan idealisme.
c.         Pluralisme, aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictonary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai aliran yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.
3.      Pengertian Administrasi
Secara etimologi, administrasi berasal dari bahasa latin, yaitu kata ad dan ministrate. Kata ad artinya intensif, sedangkan ministrate  artinya melayani, membantu, atau mengarahkan. Jadi, pengertian administrasi adalah melayani secara intensif.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata administrasi diambil dari kata "ad" dan "ministro". “Ad” mempunyai arti kepada dan “ministroberarti melayani. Dengan demikian, diartikan sebagai pelayanan atau pengabdian terhadap subjek tertentu. Selain itu, kata administrate berasal dari bahasa Belanda, yang artinya lebih sempit dan terbatas pada aktivitas ketatausahaan, yaitu kegiatan penyusunan dan pencatatan keterangan yang diperoleh secara sistematis, berfungsi mencatat hal-hal yang terjadi dalam organisasi sebagai bahan laporan bagi pimpinan, mencakup kegiatan tulis-menulis, mengirim dan menyimpan keterangan dan dikaitkan pula dengan aktivitas administrasi perkantoran yang hanya merupakan salah satu bidang aktivitas administrasi yang sebenarnya. (Yusak Burhanudin, 2005: 11)
Menurut Herbert A. Simon: “Administration can be defined as the activities of groups cooprating to accomplish common goals”. Jadi, baginya administrasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan-kegiatan kelompok kerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Menurut The Liang Gie, administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu. (Inu Kencana Syafiie, 2014: 4)
Secara bebas, administrasi dapat diartikan pelayanan atau pengabdian terhadap subjek tertentu. Hal ini karena pada masanya, administrasi dikenakan pada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian dalam tugas penyelenggaraan pemerintahan. Kemudian, berkembang ke berbagai aktivitas organisasi lain, seperti perusahaa  dan lembaga lain.
Administrasi juga diartikan sebagai pelayanan terhadap semua kebutuhan institusional dengan cara yang efektif dan efisien. Administrasi merupakan salah satu komponen dari sistem yang semua subsistemnya saling berkaitan satu sama lain. Selain itu, administrasi merupakan aktivitas-aktivitas untuk nencapai suatu tujuan, atau proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain, administrasi adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha kerja sama dua orang atau lebih atau usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personel maupun material) secara efektif, efisien, dan rasional untuk menunjang tercapainya tujuan. (Rahmat, 2013: 24)
4.      Potensi Ontologi Administrasi
Dengan spontanitas, potensi ontologi ilmu administrasi adalah pemikiran manusia terhadap isi dunia ini. Persoalannya, apakah manusia memiliki kemampuan dalam berfikir dan bertindak untuk menciptakan pengaturan dan keteraturan isi dunia? Jawaban yang dapat diberikan harus ada dalam kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan pemikiran manusia, dan ini pulalah yang menyebabkan adanya perbedaan dalam cara berfikir manusia terhadap kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan itu.
Argumentasi jawaban yang dilontarkan menurut hakikatnya, tidak ada halangan atau hambatan bagi para ilmuwan administrasi dimana saja dan kapan saja untuk melakukan tindakan dan pemikiran tentang penciptaan pengaturan dan keteraturan itu secara optimal. Segala jenis bipolaritas yang mensyaratkan terciptanya pengaturan dan keteraturan dalam ilmu administrasi menunjukkan adanya kemungkinan, dan bahkan keinginan akan integritas secara maksimal.
Kewajiban para ilmuan dalam berfikir, berdasarkan pemikiran ontologi secara kebenaran transidental dan kebenaran empirikal, terletak kepada struktur penalaran setiap ilmuwan administrasi. Jikalau terjadi kekurangan harmoni, kekurangan kebenaran, dan kebaikan, maka hal itu bukanlah muncul dari hakikat ontologi ilmu administrasi, tetapi merupakan suatu kejadian entah karena alasan apa dan kenyataan selalu ada, sepanjang masih ada yang ada. (Makmur, 2012: 45)
5.      Analisis
Dalam kajian potensi ontologi administrasi itu, potensi yang digunakan adalah potensi berfikir, bagaimana cara seseorang berfikir dan mengembangkan ilmu yang ada dengan menggalinya lebih dalam agar menghasilkan ilmu yang baru atau dapat memperbaiki ilmu-ilmu yang sebelumnya.
Jadi, secara garis besar objek kajian dari ilmu administrasi terdiri dari dua bagian, yaitu:
a.         Objek material, yaitu sesuatu yang bersifat nyata (ilmu administrasi) dengan objeknya manusia.
b.        Objek formal, yaitu aspek khusus kepada objek matrial yang diselidiki dan dideskripsikan oleh suatu ilmu (rangkaian kegatan manusia untuk mencapai tujuan).


Rabu, 15 November 2017

Canggihnya KTP Eropa dan Malaysia, Bisa Digunakan Sebagai ATM!

Canggihnya KTP Eropa dan Malaysia, Bisa Digunakan Sebagai ATM!

 Kartu Tanda Penduduk atau KTP merupakan sebuah kartu pengenal warga negara. Kartu ini wajib dimiliki oleh setiap warga negara terkait registrasi dan data penduduk negara tersebut. Di Indonesia, beberapa persyaratan untuk mengurus dokumen administrasi baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan juga kependudukan selalu dibutuhkan KTP.
Sebelum KTP elektronik diberlakukan pada tahun 2013, Indonesia menggunakan KTP konvensional yang menimbulkan masalah pemalsuan identitas. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mulai menggalakkan KTP elektronik sehingga data penduduk dapat terintegrasi dan mengurangi insiden identitas ganda atau pemalsuan identitas yang mudah dilakukan dengan KTP konvensional.
Sayangnya bila dibandingkan dengan negara lain, seperti negara-negara Eropa atau bahkan negeri jiran Malaysia, sistem integrasi e-KTP Indonesia masih belum maksimal. Hal ini dibuktikan dengan pendaftaran manual menggunakan formulir saat membuat rekening baru di bank atau membuat paspor. Data yang terekam dalam e-KTP tidak dapat terlacak atau terekam secara otomatis. Berbeda dengan sistem KTP negara-negara berikut ini. Seperti apa? Simak sama-sama yuk.
1. KTP Prancis (Carte Nationale d'identite)
KTP Prancis memiliki masa berlaku 15 tahun dan dapat digunakan sebagai tanda pengenal khusus dengan kekebalan hukum © merdeka.com
Kartu identitas warga Prancis ini memiliki masa berlaku cukup lama yakni 15 tahun sejak diterbitkan. Tak cuma berlaku sebagai tanda pengenal yang digunakan secara lokal, KTP Prancis juga dapat digunakan sebagai dokumen perjalanan layaknya paspor. KTP Prancis biasanya dapat digunakan sebagai tanda pengenal pengganti paspor di negara-negara Eropa kecuali Rusia, Belarus, Kosovo, dan Ukraina. Keistimewaan KTP Prancis lainnya adalah kegunaannya untuk membuka rekening bank atau melakukan pembayaran via cek.
2. KTP Jerman (Personalausweis)
KTP Jerman dilengkapi dengan kode yang dapat dibaca oleh mesin sehingga dapat digunakan untuk bepergian ke negara lain tanpa paspor atau visa © infinite unknown
Kartu identitas wajib dimiliki warga Jerman yang telah berusia 16 tahun ke atas. Memiliki KTP hukumnya wajib bagi warga negara Jerman sebab identitas pendukung lainnya seperti kartu SIM tidak diterima sebagai pengenal resmi warga negara. Sama seperti kartu pengenal masyarakat Prancis, KTP Jerman juga dapat digunakan sebagai dokumen perjalanan terutama untuk kunjungan di negara-negara Eropa. Masa berlaku KTP Jerman adalah 10 tahun sejak diterbitkan. Dalam KTP warga Jerman terdapat kode yang dapat terbaca oleh mesin sehingga tak dibutuhkan lagi pengisian formulir atau semacamnya saat mengurus dokumen penduduk lainnya.
3. KTP Swedia (Nationellt id-kort)
KTP Swedia memiliki beragam fungsi tanpa perlu mengurus dokumen lainnya © merdeka.com
KTP Swedia telah menggunakan sistem biometric, sama seperti KTP Prancis dan Jerman, kartu identitas warga Swedia ini dapat digunakan untuk keliling Eropa serta beberapa negara di luar Eropa lainnya. KTP Swedia ini telah menerapkan basis data kependudukan terintegrasi dengan baik. Bahkan nomor KTP hanya terdiri dari 10 angka yang mudah diingat. Nomor identitas ini dapat digunakan sekaligus sebagai Nomor Induk Mahasiswa dan kartu untuk memeriksa diri ke dokter tanpa perlu membuat janji terlebih dahulu. Singkatnya KTP di Swedia telah terhubung dengan sistem kesehatan, asuransi, tagihan listrik, telepon, dan sebagainya. Sangat memudahkan bukan?
4. KTP Malaysia (MyKad)
MyKad Malaysia bahkan dapat digunakan sebagai e-money karena telah terintegrasi dengan rekening bank © merdeka.com
Meski bukanlah anggota negara Uni Eropa namun kecanggihan kartu identitas warga Malaysia jauh lebih baik dari KTP Indonesia. MyKad Malaysia dapat berfungsi sebagai SIM, dokumen perjalanan, dan informasi sekaligus. Jadi penduduk tak perlu repot mengurus dokumen lain yang cukup memakan waktu. Bahkan MyKad Malaysia ini juga dapat digunakan sebagai e-money yang terintegrasi langsung dengan rekening tabungan pengguna. Bahkan rencananya KTP elektronik ala Malaysia ini akan dikembangkan lagi fungsinya sehingga dapat berguna sebagai kartu debit dan kartu kredit sekaligus. Canggih banget ya?

Senin, 13 November 2017

Manajemen Konflik

MAKALAH

MANAJEMEN KONFLIK


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor
Dosen: Drs. H. Anas Sasmita, MM

Disusun Oleh  : Kelompok 11
Jur/Kelas/Smt  : AP E/III

Muhammad Ghani Fikhri                     1168010183
Novi Fadia                                            1168010203
Nuraeni Habibah                                  1168010206



JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “MANAJEMEN KONFLIK”. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA SEKTOR yang diampu oleh bapak : Drs. H. Anas Sasmita, MM.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha penulis.Amin.


Bandung, November 2017



DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang........................................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah...................................................................................................... 1
1.3.Tujuan Masalah.......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Makna Konflik........................................................................................................... 3
2.2.Jenis-Jenis Konflik..................................................................................................... 1
2.3.Metode Penanganan Konflik..................................................................................... 1
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan ............................................................................................................... 1
3.2.Saran ......................................................................................................................... 1
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................






BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sepanjang kehidupan manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik baik itu secara individu maupun organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Demikian halnya dengan kehidupan organisasi, setiap anggota organisasi senantiasa dihadapkan pada konflik entah itu konflik antar individu, konflik antar kelompok atau yang lain. Di dalam organisasi perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif). Dalam paradigma lama banyak orang percaya bahwa konflik akan menghambat organisasi berkembang. Namun dalam paradigma baru ada pandangan yang berbeda. Konflik memang bisa menghambat, jika tidak dikelola dengan baik, namun jika dikelola dengan baik, konflik bisa menjadi pemicu berkembangnya organisasi menjadi lebih produktif.
Manajemen konflik sangat berpengaruh bagi anggota organisasi. Pemimpin organisasi dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul dapat berdampak positif untuk meningkatkan mutu organisasi. Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik, termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.

1.2.Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan konflik?
2.      Apa saja jenis-jenis konflik?
3.      Bagaimana metode penanganan konflik?

1.3.Tujuan Pembahasan
1.  Agar mengetahui apa itu konflik
2.   Agar mengetahui apa saja jenis-jenis konflik
3.   Agar mengetahui metode penanganan konflik


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Makna Konflik
Kata konflik berasal dari bahasa Latin, confligo, yang terdiri atas dua kata, yakni con, yang berarti bersama-sama dan fligo, yang berarti pemogokan, penghancuran, atau peremukan. Kata ini diserap oleh bahasa inggris (Webster, 1974: 213), menjadi conflict yang berarti a fight, struggle, a controversy, a quarrel, active opposition, hostility (pertarungan, perebutan kekuasaan, persengketaan, perselisihan, perlawanan yang aktif, permusuhan). Casell Concise English Dictionary (1989), mendefinisikan konflik sebagai a fight, a collision; a struggle, a contest; opposotion of interest, opinion or purposes; mental strife, agony. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1976: 519), kata konflik berarti pertentangan atau percekcokan. Konflik bisa terjadi pada diri seseorang (konflik internal) ataupun dalam kalangan yang lebih luas.Dalam organisasi, isrilah konflik menjadi "konflik organisasi" (organizational conflict).[1]
Konflik juga bisa diartikan sebagai (1) pertentangan antara dua atau lebih terhadap satu hal atau lebih dengan sesama anggota organisasi atau dengan organisasi lain, dan (2) pertentangan dengan hati nurani sendiri.
Menurut Robbins, konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain. Sedangkan konflik menurut Alabaness adalah kondisi yang dipersepsikan ada di antara pihak-pihak atau lebih merasakan adanya ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian tujuan pihak lain.
Konflik secara umum didefinisikan sebagai situasi kompetisi dimana tiap bagian atau kelompok dalam organisasi menyadari ada ketidak sesuaian harapan antara satu orang dengan yang lain atau satu kelompok dengan yang lain.[2]
Banyak definisi tentang konflik yang diberikan oleh para ahli manajemen.Hal ini bergantung pada sudut tinjauan yang digunakan dan persepsi para ahli tersebut tentang konflik dalam organisasi.Akan tetapi, diantara makna-makna yang berbeda itu tampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik dilatar belakangi oleh adanya ketidakcocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan, status, dan budaya.
Adapun beberapa teori yang mengartikan konflik sebagai berikut:
1.      Pertentangan, DuBrin (1984: 346) mengacu pada pertentangan antar individu, kelompok, atau organisasi yang dapat meningkatkan ketegangan sebagai akibat saling menghalangi dalam pencapaian tujuan.
2.      Perilaku, Tjosfold (Champoux, 1996: 295) memandang konflik dalam organisasi sebagai perilaku yang berlawanan dan bertentangan.
3.      Sebagai hubungan, (Martinez dan Fule, 2000: 274) menyatakan konflik adalah suatu hubungan yang terjadi antara dua orang, kelompok, organisasi ataupun golongan.
4.      Sebagai situasi, (Nelson dan Quick, 1997: 178), melihat konflik sebagai suatu situasi ketika tujuan, sikap, emosi, dan tingkah laku yang bertentangan menimbulkan oposisi dan sengketa antara dua kelompok atau lebih.
Terlepas dari faktor-faktor yang melatar belakanginya, konflik merupakan suatu gejala ketika individu atau kelompok menunjukkan sikap atau perilaku "bermusuhan" terhadap individu atau kelompok lain sehingga memengaruhi kinerja dari salah satu atau semua pihak yang terlibat.
Keberadaan konflik dalam organisasi menurut Robbin (1996), ditentukan oleh presepsi individu atau kelompok.Jika mereka tidak menyadari bahwa telah terjadi konflik di dalam organisasi, secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada.Sebaliknya, jika mereka mempresepsikan bahwa didalam organisasi telah terjadi konflik, konflik tersebut menjadi suatu kenyataan.
Kesimpulan dari berbagai pendapat diatas bahwa konflik merupakan suatu proses yang bermula dari konflik laten (terpendam). Jika tidak diselesaikan, konflik ini akan berkembang dan membahayakan organisasi. Kemudian, konflik juga merupakan suatu perilaku beroposisi. Artinya, orang yang terlibat konflik akan melakukan hal-hal yang menentang atau menghalangi usaha lawan. Terakhir, konflik adalah suatu hubungan yang selalu terjadi pada setiap manusia selama dia melakukan suatu hubungan.
Konflik ini dapat terjadi dalam lima bentuk, yaitu (1) konflik dengan diri sendiri (konflik dengan hati nurani sendiri), (2) konflik diri sendiri dengan seseorang (antarpersonal), (3) konflik diri sendiri dengan kelompok, (4) konflik kelompok dengan kelompok dalam satu organisasi (intergrup), dan (5) kelompok antarorganisasi (antargrup).

2.2.Jenis-Jenis Konflik
Ada berbagai macam jenis konflik, bergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi.Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, atas dasar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya. [3]
1.      Konflik Dilihat dari Fungsinya
Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996: 430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu konflik fungsional (functional conflict) dan konflik disfungsional (disfunctional conflict).Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok, sedangkan konflik disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.
2.      Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989: 393) membagi konfik menjadi enam macam, yaitu sebagai berikut:
a.       Konflik dalam diri individu (conflict within the individual). Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.
b.      Konflik antar individu (conflict among individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality differences) antar individu yang satu dengan individu yang lain.
c.       Konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempat ia bekerja.
d.      Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization). Konflik ini terjadi karena masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
e.       Konflik antarorganisasi (conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumber daya yang sama.
f.       Konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in different organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi yang lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang menyatakan keberatan atas pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.
3.      Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Winardi (1992: 174) membagi konflik menjadi emapat macam, dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi.Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi anatara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
b.      Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjadi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antara karyawan, atau antar departemen yang setingkat.
c.       Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini, yang biasanya berfungsi sebagai penasihat dalam organisasi.
d.      Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.
Disamping klasifikasi tersebut, ada klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et al. (1982), yang membagi konflik atas:
a.       Substantif (substantive conflict), merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan.
b.     Emosional (emotional conflict), terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi (personality clashes).
c.       Konstruktif (constructive conflict), merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu masalah.
d.      Destruktif (destructive conflict).merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang maupun kelompok terhadap pihak lain.
2.3.Metode Penanganan Konflik
Upaya penanganan konflik sangat penting dilakukan karena setiap jenis perubahan dalam suatu organisasi cenderung mendatangkan konflik. Menurut Gibson (1997), kegagalan dalam menangani konflik dapat mengarah pada akibat yang mencelakakan. Konflik dapat menghancurkan organisasi melalui penciptaan dinding pemisah di antara rekan sekerja, menghasilkan kinerja yang buruk, dan bahkan pengunduran diri.
Para manajer organisasi publik harus menyadari bahwa karena konflik disebabkan oleh faktor-faktor yang berlainan, model yang digunakan dalam pengelolaan konflik juga berlainan, tergantung pada keadaan.Memilih sebuah model pemecahan konflik yang cocok bergantung pada beberapa faktor, termaksuk alasan mengapa konflik terjadi, dan hubungan khusus antara pimpinan dan pihak yang terlibat konflik. Menurut Greenhalgh (1999), efektivitas pimpinan organisasi dalam menangani konflik tergantung pada seberapa baik mereka memahami dinamika dasar dari konflik, dan apakah mereka dapat mengenali hal-hal penting yang terdapat dalam konflik tersebut.
Berikut ada beberapa model teoritis dalam mengelola konflik yang dikemukakan oleh para ahli manajemen dan perilaku organisasi.[4]
1.      Model Diagnosis Konflik Pandangan Kontinum dari Leonard Greenhalgh
Menurut Greenhalg (1999:391), konflik bukanlah suatu fenomena yang objektif dan nyata, tetapi ada dalam benak orang-orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Oleh karena itu, seseorang perlu bersikap empati, yaitu memahami keadaan sebagaimana yang dilihat oleh para pelaku penting yang terlibat konflik.Unsur yang penting dalam manajemen konflik adalah persuasi, dan inilah bentuk penyelesaian konflik yang selalu ditekankan oleh Greenhalgh dalam model kontinumnya.
a.      Masalah-masalah yang dipertanyakan
Jika masalah yang menjadi sumber konflik adalah masalah prinsip, konflik akan sulit dipecahkan karena mengorbankan prinsip dipandang sebagai mengorbankan integritas pribadi. Jika hal ini terjadi, bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah meminta semua pihak untuk mengakui bahwa mereka memahami pandangan satu sama lain, walaupun masih percaya dengan pandanganya sendiri. Cara seperti ini lebih memungkinkan semua pihak untuk maju dalam proses negosiasi dari pada tetap pada posisi masing-masing.
b.      Ukuran taruhan
Semakin besar nilai yang dipertaruhkan dalam perdebatan, semakin sulit konflik dipecahkan.Misalnya, kebijakan akuisisi yang oleh manajer dianggap membahayakan kedudukanya. Manajer yang berfikir subjektif akan memandang taruhanya cukup tinggi maka ia akan berusaha mati-matian menentang proses akuisisi tersebut. Dalam kasus ini, pendekatan persuasif dengan cara menunda penyelesaian, hingga semua pihak menjadi kurang emosional, sangat baik untuk dilakukan. Selama masa penundaan tersebut, masing-masing pihak dapat mengevaluasi kembali masalah yang dipertaruhkan dan berusaha untuk mencoba bersikap objektif dalam penilaian mereka.
c.       Saling ketergantungan pihak-pihak yang terlibat
Pihak-pihak yang terlibat suatu konflik dapat memandang dirinya sendiri dalam suatu rangkaian saling ketergantungan “berjumlah nol” hiongga “berjumlah positif”. Saling ketergantungan berjumlah nol adalah presepsi bahwa jika suatu pihak memperoleh sesuatu dari proses interaksi, hal tersebut berarti pengorbanan bagi pihak lain. Saling ketergantungan berjumlah positif jika kedua belah pihak sama-sama merasa memperoleh keuntungan dari proses interaksi. Suatu hubungan berjumlah nol membuat konflik sulit untuk dipecahkan karena hubungan ini memutuskan perhatian secara sempit pada perolehan pribadi, dan bukan pada perolehan kedua belah pihak melalui kerja sama dan pemecahan masalah. Jika hal ini terjadi, kedua belah pihak harus dibujuk untuk mempertimbangkan cara agar mereka dapat saling memperoleh manfaat dari suatu situasi.


d.      Kontinuitas interaksi
Dimensi kontinuitas interaksi berhubungan dengan horizon waktu ketika semua pihak melihat dirinya sendiri berhubungan satu sama lain. Jika mereka memvisualisasikan interaksi yang terjadi sebagai interaksi jangka panjang atau suatu hubungan yang terus-menerus, konflik yang terjadi akan mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika interaksi dipandang sebagai hubungan jangka pendek atau hubungan episodik, konflik tersebut akan sulit dipecahkan. Oleh karena itu pihak-pihak yang terlibat harus dibujuk agar mau menyadari bahwa hubungan mereka tidak berhenti disini, atau pada saat konflik terjadi, tetapi akan ada hubungan lain yang terus-menerus pada masa yang akan datang.
e.       Struktur pihak-pihak yang terlibat
Konflik lebih mudah dipecah jika suatu pihak mempunyai seorang pemimpin yang kuat, yang dapat menyatukan pengikutnya untuk menerima dan melaksanakan kesepakatan. Jika kepemimpinanya lemah, sub-subkelompok serikat pekerja yang paling merasa berkewajiban untuk mematuhi semua kesepakatan akan melakukan perotes tanpa memerhatikan hal-hal yang telah disepakati pemimpin mereka, sehingga konflik sulit untuk dipecahkan. Serikat pekerja yang dipimpin oleh pemimpin yang kuat mungkin menyulitkan dalam peundingan, tetapi ketika kesepakatan dicapai, hasil perundingan tersebut dihormati oleh anggota serikat pekerja. Jika serikat pekerja dipimpin oleh pemimpin yang lemah terlibat dalam konflik, hasil yang disepakati mungkin akan dirusak oleh orang-orang dari dalam serikat pekerja tersebut, yang mungkin tidak menyukai sebagian isi kesepakatan. Hasilnya mungkin dapat berupa pertentangan yang kronis terhadap perubahan atau bahkan melakukan pemogokan.
f.       Keterlibatan pihak ketiga
Orang-orang cenderung terlibat secara emosional dalam konflik, keterlibatan tersebut dapat menimbulkan pengaruh, antara lain; rusaknya presepsi, munculnya proses pemikiran dan argumentasi yang tidak rasional, pendirian yang tidak beralasan, komunikasi yang rusak, dan munculnya serangan-serangan terhadap pribadi. Pengaruh-pengaruh seperti ini menyebabkan konflik sulit untuk dipecahkan.Dalam menghadapi situasi seperti ini, peranan pihak ketiga yang netral sangat diperlukan. Pihak ketiga yang netral akan lebih bisa diterima oleh pihak-pihak yang terlibat karena mereka lebih menyukai evaluasi pihak lain dari pada dievaluasi pihak lawan. Semakin berwibawa, berkuasa, dipercaya, dan netral pihak ketiga, semakin besar kemungkinan pihak-pihak yang terlibat konflik untuk menahan emosi.
g.      Kemajuan konflik
Sulit mengatasi konflik jika semua pihak yang terlibat tidak siap untuk suatu rekonsiliasi. Jika masing-masing pihak merasa bahwa diri mereka paling dirugikan, konflik akan sulit dipecahkan. Karena itu, hal penting yang harus dilakukan adalah membujuk pihak-pihak yang terlibat agar menyadari bahwa mereka sama-sama menderita akibat konflik. Pihak-pihak yang terlibat harus dibawa pada “posisi yang sama” sehingga mau secara sukarela berpartisipasi dalam penyelesaian konflik yang terjadi.[5]
2.      Lima Gaya Penanganan Konflik (Five Conflict-Handling Styles)
Model ini ditunjukan untuk menangani konflik disfungsional dalam organisasi.Kreitner dan Kinicki mengadopsi model ini dari tulisan M. Afzalur Rahim, “A Strategy for Managing Conflict in Complex Organization”, pada human relations, edisi januari 1985, halaman 84.Oleh karena itu, Kreitner dan Kinicki menyebut model ini sebagai Afzalur Rahim’s Model (Kreitner dan Kinicki, 1995:287). Masalah yang membedakan diantara pandangan kedua model tersebut adalah integrating, obliging, dominating, avoiding, dan compromising.
a.         Integrating (Problem Solving)
            Dalam gaya ini, pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasi masalah yang dihadapi, kemudian muncul mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh kesalah pahaman, tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi karena sistem nilai yang berbeda.Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam permasalahanya.
b.         Obliging (Smoothing)
            Seseorang yang bergaya obliging lebih memutuskan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain dari pada diri sendiri. Gaya ini sering pula disebut smoothing (melicinkan) karena berupaya mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan diantara pihak-pihak yang terlibat.Kekuatan strategi ini terletak pada upaya mendorong terjadinya kerjasama.Adapun kelemahanya, penyelesaianya bersifat sementara dan tidak menyentuh pada masalah pokok yang ingin dipecahkan.
c.         Dominating (Forcing)
            Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian pada kepentingan orang lain, mendorong seseorang menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”.Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah.Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah mepet. Sebaliknya, gaya ini cocok untuk menangani masalah yang menghendaki partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Adapun kelemahanya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.
d.         Avoiding
            taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh, atau jika biaya yang harus dikeluarkan untuk konfrontasi jauh lebih besar dari pada keuntungan yang akan diperoleh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau buruk.Kekuatan dari strategi penghindaran adalah ketika menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situation), sedangkan kelemahanya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.
e.         Compromising
            Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara imbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima dari pihak-pihak yang terlibat. Kompromi cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi memiliki kekuatan yang sama. Misalnya dalam negosiasi kontrak antara buruh dan majikan.Kekuatan utama dari kompromi adalah prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan.Akan tetapi, penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreatifitas dalam penyelesaian masalah.[6]
3.      Negosiasi
Teknik negosiasi yang merupakan pertemuan antara dua pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda atau pihak yang sedang mengalami konflik dan secara bersama-sama berusaha mencapai sebuah persetujua (Gibson dkk, 1996). Pendekatan ini merupakan cara yang palin efektif karena melibatkan kedua kelompok yang berkonflik dimana sebelum berlangsung negosiasi kesua pihak harus sudah saling memahami kebutuhan dan posisi yang menyangkut hal yang akan diselesaikan satu sama lain, mengetahui semua pilihan untuk menyelesaikan konflik dengan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan hal yang akan diselesaikan sehingga dapat dikatakan dalam negosiasi akan selalu diupayakan untuk menemukan win-win solution agartida ada salah satu pihak yang untung dan pihak lain rugi. Selain itu, negosiasi juga melibatkan pihak ketiga selaku oihak netral yang membantu mencari titik temu atau kesepakatan antara kedua pihak.Pihak ketiga tersebut bisa seorang mediator, arbitrator, conciliator, atau consultant.[7]

           




BAB III
                                                                 PENUTUPAN         
3.1.Kesimpulan
Kata konflik berasal dari bahasa Latin, confligo, yang terdiri atas dua kata, yakni con, yang berarti bersama-sama dan fligo, yang berarti pemogokan, penghancuran, atau peremukan.Menurut Robbins, konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain.
Ada berbagai macam jenis konflik, bergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Konflik berdasarkan fungsinya, Robbins(1996: 430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu konflik fungsional (functional conflict) dan konflik disfungsional (disfunctional conflict).Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman(1989: 393) membagi konfik menjadi enam macam, yaitu konflik dalam diri individu (conflict within the individual), konflik antar individu (conflict among individuals), konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups), konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization), konflik antarorganisasi (conflict among organizations), konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in different organizations). Sedangkan konflik dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasiWinardi(1992: 174) membagi konflik menjadi emapat macam, dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi, yaitukonflik vertical, konflik horizontal, konflik garis-staf, dan konflik peran.

3.2.Saran
Untuk mengatasi konflik diperlukan pihak yang dapat bersikap netral dalam mengambil sebuah keputusan sehingga konflik dalam manajemen dapat diatasi dan diarahkan ke arah yang lebih baik.




DAFTAR PUSTAKA
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2011. Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Siagian, Sondang P. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Anatan, Lina dan Lena Ellitan.2007. Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Bisnis Modern.Bandung: Alfabeta.
Umam, Khaerul. 2012. Manajemen Organisasi. Bandung: Pustaka Setia.
Usman, Husaini. 2014. Manajemen (Teori, Praktik dan Riset Pendidikan Edisi 4). Jakarta: Bumi Aksara.







[1] Khaerul Umam, Manajemen Organisasi, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 261
[2]Lina Antana dan Lena Ellitan, Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Bisnis Modern, Alfabeta, Bandung, hlm. 46
[3] Khaerul Umam, hlm. 265-267
[4] Khaerul Umam, hal 273
[5] Ibid, hal 273-277
[6] Husain Usman, 2014, Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, hal. 507-508
[7]Lina Antana dan Lena Ellitan, hlm. 51-52

Daily activity