MAKALAH
MANAJEMEN
KONFLIK
Diajukan untuk memenuhi
salah satu tugas pada mata kuliah
“Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor”
Dosen:
Drs. H. Anas Sasmita, MM
Disusun
Oleh : Kelompok 11
Jur/Kelas/Smt : AP E/III
Muhammad Ghani Fikhri 1168010183
Novi Fadia 1168010203
Nuraeni Habibah 1168010206
JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini
yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “MANAJEMEN KONFLIK”.
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA SEKTOR yang diampu oleh bapak : Drs. H. Anas Sasmita, MM.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha penulis.Amin.
Bandung, November 2017
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar................................................................................................................... i
Daftar
Isi............................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang........................................................................................................... 1
1.2.Rumusan
Masalah...................................................................................................... 1
1.3.Tujuan
Masalah.......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Makna
Konflik........................................................................................................... 3
2.2.Jenis-Jenis
Konflik..................................................................................................... 1
2.3.Metode
Penanganan Konflik..................................................................................... 1
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan ............................................................................................................... 1
3.2.Saran ......................................................................................................................... 1
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Sepanjang
kehidupan manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik baik itu
secara individu maupun organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat
dihindarkan. Demikian halnya dengan kehidupan organisasi, setiap anggota
organisasi senantiasa dihadapkan pada konflik entah itu konflik antar individu,
konflik antar kelompok atau yang lain. Di dalam organisasi perubahan atau
inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif). Dalam paradigma
lama banyak orang percaya bahwa konflik akan menghambat organisasi berkembang.
Namun dalam paradigma baru ada pandangan yang berbeda. Konflik memang bisa
menghambat, jika tidak dikelola dengan baik, namun jika dikelola dengan baik,
konflik bisa menjadi pemicu berkembangnya organisasi menjadi lebih produktif.
Manajemen
konflik sangat berpengaruh bagi anggota organisasi. Pemimpin organisasi
dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul dapat berdampak
positif untuk meningkatkan mutu organisasi. Manajemen konflik merupakan
serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu
konflik, termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang
mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun
pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang
berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang
akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara
pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
1.2.Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan
konflik?
2. Apa
saja jenis-jenis konflik?
3. Bagaimana
metode penanganan konflik?
1.3.Tujuan Pembahasan
1. Agar mengetahui apa itu konflik
2. Agar mengetahui apa saja jenis-jenis konflik
3. Agar mengetahui metode penanganan konflik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Makna
Konflik
Kata konflik berasal
dari bahasa Latin, confligo, yang terdiri atas dua kata, yakni con, yang berarti bersama-sama dan fligo, yang berarti pemogokan,
penghancuran, atau peremukan. Kata ini diserap oleh bahasa inggris (Webster,
1974: 213), menjadi conflict yang berarti a fight, struggle, a
controversy, a quarrel, active opposition, hostility (pertarungan,
perebutan kekuasaan, persengketaan, perselisihan, perlawanan yang aktif,
permusuhan). Casell Concise English Dictionary (1989), mendefinisikan
konflik sebagai a fight, a collision; a struggle, a contest; opposotion of
interest, opinion or purposes; mental strife, agony. Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1976: 519), kata konflik berarti
pertentangan atau percekcokan. Konflik bisa terjadi pada diri seseorang
(konflik internal) ataupun dalam kalangan yang lebih luas.Dalam organisasi,
isrilah konflik menjadi "konflik organisasi" (organizational
conflict).[1]
Konflik juga bisa
diartikan sebagai (1) pertentangan antara dua atau lebih terhadap satu hal atau
lebih dengan sesama anggota organisasi atau dengan organisasi lain, dan (2)
pertentangan dengan hati nurani sendiri.
Menurut Robbins,
konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak
lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara
negatif pihak lain. Sedangkan konflik menurut Alabaness adalah kondisi yang
dipersepsikan ada di antara pihak-pihak atau lebih merasakan adanya
ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian
tujuan pihak lain.
Konflik secara umum
didefinisikan sebagai situasi kompetisi dimana tiap bagian atau kelompok dalam
organisasi menyadari ada ketidak sesuaian harapan antara satu orang dengan yang
lain atau satu kelompok dengan yang lain.[2]
Banyak
definisi tentang konflik yang diberikan oleh para ahli manajemen.Hal ini
bergantung pada sudut tinjauan yang digunakan dan persepsi para ahli tersebut
tentang konflik dalam organisasi.Akan tetapi, diantara makna-makna yang berbeda
itu tampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik dilatar belakangi oleh adanya
ketidakcocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan, status, dan budaya.
Adapun
beberapa teori yang mengartikan konflik sebagai berikut:
1. Pertentangan,
DuBrin
(1984:
346) mengacu pada pertentangan antar individu, kelompok, atau organisasi yang
dapat meningkatkan ketegangan sebagai akibat saling menghalangi dalam
pencapaian tujuan.
2. Perilaku,
Tjosfold
(Champoux,
1996: 295) memandang konflik dalam organisasi sebagai perilaku yang
berlawanan dan bertentangan.
3. Sebagai
hubungan, (Martinez dan Fule, 2000: 274)
menyatakan konflik adalah suatu hubungan yang terjadi antara dua orang,
kelompok, organisasi ataupun golongan.
4. Sebagai
situasi,
(Nelson
dan Quick, 1997: 178), melihat konflik sebagai suatu situasi ketika tujuan,
sikap, emosi, dan tingkah laku yang bertentangan menimbulkan oposisi dan
sengketa antara dua kelompok
atau lebih.
Terlepas dari
faktor-faktor yang melatar belakanginya, konflik merupakan suatu gejala ketika
individu atau kelompok menunjukkan sikap atau perilaku "bermusuhan" terhadap individu atau
kelompok lain sehingga memengaruhi kinerja dari salah satu atau semua pihak
yang terlibat.
Keberadaan konflik
dalam organisasi menurut Robbin (1996), ditentukan oleh presepsi
individu atau kelompok.Jika mereka tidak menyadari bahwa telah terjadi konflik
di dalam organisasi, secara umum konflik tersebut dianggap tidak
ada.Sebaliknya, jika mereka mempresepsikan bahwa didalam organisasi telah
terjadi konflik, konflik tersebut menjadi suatu kenyataan.
Kesimpulan dari
berbagai pendapat diatas bahwa konflik merupakan suatu proses yang bermula dari
konflik laten (terpendam). Jika tidak diselesaikan, konflik ini akan berkembang
dan membahayakan organisasi. Kemudian, konflik juga merupakan suatu perilaku
beroposisi. Artinya, orang yang terlibat konflik akan melakukan hal-hal yang
menentang atau menghalangi usaha lawan. Terakhir, konflik adalah suatu hubungan
yang selalu terjadi pada setiap manusia selama dia melakukan suatu hubungan.
Konflik ini dapat
terjadi dalam lima bentuk, yaitu (1) konflik dengan diri sendiri (konflik
dengan hati nurani sendiri), (2) konflik diri sendiri dengan seseorang
(antarpersonal), (3) konflik diri sendiri dengan kelompok, (4) konflik kelompok
dengan kelompok dalam satu organisasi (intergrup), dan (5) kelompok
antarorganisasi (antargrup).
2.2.Jenis-Jenis
Konflik
Ada
berbagai macam jenis konflik, bergantung pada dasar yang digunakan untuk
membuat klasifikasi.Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, atas dasar
pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya. [3]
1. Konflik
Dilihat dari Fungsinya
Berdasarkan
fungsinya, Robbins (1996: 430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu
konflik fungsional (functional conflict) dan konflik disfungsional (disfunctional
conflict).Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian
tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok, sedangkan konflik
disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.
2. Konflik
Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan
pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989:
393) membagi konfik menjadi enam macam, yaitu sebagai berikut:
a. Konflik
dalam diri individu (conflict within the
individual). Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang
saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas
kemampuannya.
b. Konflik
antar individu (conflict among
individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality differences) antar individu yang satu dengan individu
yang lain.
c. Konflik
antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi
jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempat ia
bekerja.
d. Konflik
antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict
among groups in the same organization). Konflik ini terjadi karena
masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya
untuk mencapainya.
e. Konflik
antarorganisasi (conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika
tindakan yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi
organisasi lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumber daya yang sama.
f. Konflik
antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in
different organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau
perilaku dari anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota
organisasi yang lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang
menyatakan keberatan atas pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.
3. Konflik
Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Winardi
(1992:
174) membagi konflik menjadi emapat macam, dilihat dari posisi seseorang dalam
struktur organisasi.Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut.
a. Konflik
vertikal, yaitu konflik yang terjadi anatara karyawan yang memiliki kedudukan
yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
b. Konflik
horizontal, yaitu konflik yang terjadi antara mereka yang memiliki kedudukan
yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antara karyawan,
atau antar departemen yang setingkat.
c. Konflik
garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini, yang biasanya
berfungsi sebagai penasihat dalam organisasi.
d. Konflik
peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu
peran yang saling bertentangan.
Disamping
klasifikasi tersebut, ada klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn,
et al. (1982), yang membagi konflik atas:
a. Substantif
(substantive conflict), merupakan
perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya
dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian
jabatan pekerjaan.
b.
Emosional (emotional conflict), terjadi akibat adanya perasaan
marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya
pertentangan antar pribadi (personality clashes).
c. Konstruktif
(constructive conflict), merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini
muncul karena adanya perbedaan kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu
masalah.
d. Destruktif
(destructive conflict).merupakan
konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam
dari seseorang maupun kelompok terhadap pihak lain.
2.3.Metode
Penanganan Konflik
Upaya
penanganan konflik sangat penting dilakukan karena setiap jenis perubahan dalam
suatu organisasi cenderung mendatangkan konflik. Menurut Gibson (1997),
kegagalan dalam menangani konflik dapat mengarah pada akibat yang mencelakakan.
Konflik dapat menghancurkan organisasi melalui penciptaan dinding pemisah di
antara rekan sekerja, menghasilkan kinerja yang buruk, dan bahkan pengunduran
diri.
Para
manajer organisasi publik harus menyadari bahwa karena konflik disebabkan oleh
faktor-faktor yang berlainan, model yang digunakan dalam pengelolaan konflik
juga berlainan, tergantung pada keadaan.Memilih sebuah model pemecahan konflik
yang cocok bergantung pada beberapa faktor, termaksuk alasan mengapa konflik
terjadi, dan hubungan khusus antara pimpinan dan pihak yang terlibat konflik.
Menurut Greenhalgh (1999), efektivitas pimpinan organisasi dalam menangani
konflik tergantung pada seberapa baik mereka memahami dinamika dasar dari
konflik, dan apakah mereka dapat mengenali hal-hal penting yang terdapat dalam
konflik tersebut.
Berikut
ada beberapa model teoritis dalam mengelola konflik yang dikemukakan oleh para
ahli manajemen dan perilaku organisasi.[4]
1.
Model
Diagnosis Konflik Pandangan Kontinum dari Leonard Greenhalgh
Menurut
Greenhalg (1999:391), konflik bukanlah suatu fenomena yang objektif dan nyata,
tetapi ada dalam benak orang-orang yang terlibat dalam konflik tersebut. Oleh
karena itu, seseorang perlu bersikap empati, yaitu memahami keadaan sebagaimana
yang dilihat oleh para pelaku penting yang terlibat konflik.Unsur yang penting
dalam manajemen konflik adalah persuasi, dan inilah bentuk penyelesaian konflik
yang selalu ditekankan oleh Greenhalgh dalam model kontinumnya.
a.
Masalah-masalah
yang dipertanyakan
Jika masalah yang
menjadi sumber konflik adalah masalah prinsip, konflik akan sulit dipecahkan
karena mengorbankan prinsip dipandang sebagai mengorbankan integritas pribadi.
Jika hal ini terjadi, bentuk intervensi yang dapat dilakukan adalah meminta
semua pihak untuk mengakui bahwa mereka memahami pandangan satu sama lain,
walaupun masih percaya dengan pandanganya sendiri. Cara seperti ini lebih
memungkinkan semua pihak untuk maju dalam proses negosiasi dari pada tetap pada
posisi masing-masing.
b.
Ukuran
taruhan
Semakin besar nilai
yang dipertaruhkan dalam perdebatan, semakin sulit konflik dipecahkan.Misalnya,
kebijakan akuisisi yang oleh manajer dianggap membahayakan kedudukanya. Manajer
yang berfikir subjektif akan memandang taruhanya cukup tinggi maka ia akan
berusaha mati-matian menentang proses akuisisi tersebut. Dalam kasus ini,
pendekatan persuasif dengan cara menunda penyelesaian, hingga semua pihak
menjadi kurang emosional, sangat baik untuk dilakukan. Selama masa penundaan
tersebut, masing-masing pihak dapat mengevaluasi kembali masalah yang
dipertaruhkan dan berusaha untuk mencoba bersikap objektif dalam penilaian
mereka.
c.
Saling
ketergantungan pihak-pihak yang terlibat
Pihak-pihak yang
terlibat suatu konflik dapat memandang dirinya sendiri dalam suatu rangkaian
saling ketergantungan “berjumlah nol” hiongga “berjumlah positif”. Saling
ketergantungan berjumlah nol adalah presepsi bahwa jika suatu pihak memperoleh
sesuatu dari proses interaksi, hal tersebut berarti pengorbanan bagi pihak
lain. Saling ketergantungan berjumlah positif jika kedua belah pihak sama-sama
merasa memperoleh keuntungan dari proses interaksi. Suatu hubungan berjumlah
nol membuat konflik sulit untuk dipecahkan karena hubungan ini memutuskan
perhatian secara sempit pada perolehan pribadi, dan bukan pada perolehan kedua
belah pihak melalui kerja sama dan pemecahan masalah. Jika hal ini terjadi,
kedua belah pihak harus dibujuk untuk mempertimbangkan cara agar mereka dapat
saling memperoleh manfaat dari suatu situasi.
d.
Kontinuitas
interaksi
Dimensi kontinuitas
interaksi berhubungan dengan horizon waktu ketika semua pihak melihat dirinya
sendiri berhubungan satu sama lain. Jika mereka memvisualisasikan interaksi
yang terjadi sebagai interaksi jangka panjang atau suatu hubungan yang
terus-menerus, konflik yang terjadi akan mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika
interaksi dipandang sebagai hubungan jangka pendek atau hubungan episodik,
konflik tersebut akan sulit dipecahkan. Oleh karena itu pihak-pihak yang
terlibat harus dibujuk agar mau menyadari bahwa hubungan mereka tidak berhenti
disini, atau pada saat konflik terjadi, tetapi akan ada hubungan lain yang
terus-menerus pada masa yang akan datang.
e.
Struktur
pihak-pihak yang terlibat
Konflik lebih mudah
dipecah jika suatu pihak mempunyai seorang pemimpin yang kuat, yang dapat
menyatukan pengikutnya untuk menerima dan melaksanakan kesepakatan. Jika
kepemimpinanya lemah, sub-subkelompok serikat pekerja yang paling merasa
berkewajiban untuk mematuhi semua kesepakatan akan melakukan perotes tanpa
memerhatikan hal-hal yang telah disepakati pemimpin mereka, sehingga konflik
sulit untuk dipecahkan. Serikat pekerja yang dipimpin oleh pemimpin yang kuat
mungkin menyulitkan dalam peundingan, tetapi ketika kesepakatan dicapai, hasil
perundingan tersebut dihormati oleh anggota serikat pekerja. Jika serikat
pekerja dipimpin oleh pemimpin yang lemah terlibat dalam konflik, hasil yang
disepakati mungkin akan dirusak oleh orang-orang dari dalam serikat pekerja
tersebut, yang mungkin tidak menyukai sebagian isi kesepakatan. Hasilnya
mungkin dapat berupa pertentangan yang kronis terhadap perubahan atau bahkan
melakukan pemogokan.
f.
Keterlibatan
pihak ketiga
Orang-orang cenderung
terlibat secara emosional dalam konflik, keterlibatan tersebut dapat
menimbulkan pengaruh, antara lain; rusaknya presepsi, munculnya proses
pemikiran dan argumentasi yang tidak rasional, pendirian yang tidak beralasan,
komunikasi yang rusak, dan munculnya serangan-serangan terhadap pribadi.
Pengaruh-pengaruh seperti ini menyebabkan konflik sulit untuk dipecahkan.Dalam
menghadapi situasi seperti ini, peranan pihak ketiga yang netral sangat
diperlukan. Pihak ketiga yang netral akan lebih bisa diterima oleh pihak-pihak
yang terlibat karena mereka lebih menyukai evaluasi pihak lain dari pada
dievaluasi pihak lawan. Semakin berwibawa, berkuasa, dipercaya, dan netral
pihak ketiga, semakin besar kemungkinan pihak-pihak yang terlibat konflik untuk
menahan emosi.
g.
Kemajuan
konflik
Sulit mengatasi konflik
jika semua pihak yang terlibat tidak siap untuk suatu rekonsiliasi. Jika
masing-masing pihak merasa bahwa diri mereka paling dirugikan, konflik akan
sulit dipecahkan. Karena itu, hal penting yang harus dilakukan adalah membujuk
pihak-pihak yang terlibat agar menyadari bahwa mereka sama-sama menderita
akibat konflik. Pihak-pihak yang terlibat harus dibawa pada “posisi yang sama”
sehingga mau secara sukarela berpartisipasi dalam penyelesaian konflik yang
terjadi.[5]
2.
Lima
Gaya Penanganan Konflik (Five Conflict-Handling Styles)
Model
ini ditunjukan untuk menangani konflik disfungsional dalam organisasi.Kreitner
dan Kinicki mengadopsi model ini dari tulisan M. Afzalur Rahim, “A Strategy for Managing Conflict in Complex
Organization”, pada human relations, edisi januari 1985, halaman 84.Oleh
karena itu, Kreitner dan Kinicki menyebut model ini sebagai Afzalur Rahim’s
Model (Kreitner dan Kinicki, 1995:287). Masalah yang membedakan diantara
pandangan kedua model tersebut adalah integrating, obliging, dominating,
avoiding, dan compromising.
a. Integrating
(Problem Solving)
Dalam gaya ini, pihak-pihak yang
berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasi masalah yang dihadapi,
kemudian muncul mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan
masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh
kesalah pahaman, tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi
karena sistem nilai yang berbeda.Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu
yang lama dalam permasalahanya.
b. Obliging
(Smoothing)
Seseorang yang bergaya obliging
lebih memutuskan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain dari pada diri
sendiri. Gaya ini sering pula disebut smoothing (melicinkan) karena berupaya
mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan
diantara pihak-pihak yang terlibat.Kekuatan strategi ini terletak pada upaya
mendorong terjadinya kerjasama.Adapun kelemahanya, penyelesaianya bersifat
sementara dan tidak menyentuh pada masalah pokok yang ingin dipecahkan.
c. Dominating
(Forcing)
Orientasi pada diri sendiri yang
tinggi, dan rendahnya kepedulian pada kepentingan orang lain, mendorong
seseorang menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”.Gaya ini sering disebut
memaksa (forcing) karena menggunakan
legalitas formal dalam menyelesaikan masalah.Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara
yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang
dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah
mepet. Sebaliknya, gaya ini cocok untuk menangani masalah yang menghendaki
partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada
minimalnya waktu yang diperlukan. Adapun kelemahanya, sering menimbulkan
kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang
terlibat.
d. Avoiding
taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk
menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh, atau jika biaya yang harus
dikeluarkan untuk konfrontasi jauh lebih besar dari pada keuntungan yang akan
diperoleh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau
buruk.Kekuatan dari strategi penghindaran adalah ketika menghadapi situasi yang
membingungkan atau mendua (ambiguous situation), sedangkan kelemahanya,
penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok
masalah.
e. Compromising
Gaya ini menempatkan seseorang pada
posisi moderat, yang secara imbang memadukan antara kepentingan sendiri dan
kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima
dari pihak-pihak yang terlibat. Kompromi cocok digunakan untuk menangani
masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi
memiliki kekuatan yang sama. Misalnya dalam negosiasi kontrak antara buruh dan
majikan.Kekuatan utama dari kompromi adalah prosesnya yang demokratis dan tidak
ada pihak yang merasa dikalahkan.Akan tetapi, penyelesaian konflik kadang
bersifat sementara dan mencegah munculnya kreatifitas dalam penyelesaian
masalah.[6]
3.
Negosiasi
Teknik
negosiasi yang merupakan pertemuan antara dua pihak yang memiliki kepentingan
yang berbeda atau pihak yang sedang mengalami konflik dan secara bersama-sama
berusaha mencapai sebuah persetujua (Gibson dkk, 1996). Pendekatan ini
merupakan cara yang palin efektif karena melibatkan kedua kelompok yang
berkonflik dimana sebelum berlangsung negosiasi kesua pihak harus sudah saling
memahami kebutuhan dan posisi yang menyangkut hal yang akan diselesaikan satu
sama lain, mengetahui semua pilihan untuk menyelesaikan konflik dengan
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan hal yang akan diselesaikan
sehingga dapat dikatakan dalam negosiasi akan selalu diupayakan untuk menemukan
win-win solution agartida ada salah
satu pihak yang untung dan pihak lain rugi. Selain itu, negosiasi juga
melibatkan pihak ketiga selaku oihak netral yang membantu mencari titik temu
atau kesepakatan antara kedua pihak.Pihak ketiga tersebut bisa seorang mediator, arbitrator, conciliator, atau
consultant.[7]
BAB III
PENUTUPAN
3.1.Kesimpulan
Kata
konflik berasal dari bahasa Latin, confligo, yang terdiri atas dua kata, yakni con, yang berarti bersama-sama dan fligo, yang berarti pemogokan,
penghancuran, atau peremukan.Menurut Robbins, konflik adalah suatu proses yang
dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara
negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain.
Ada
berbagai macam jenis konflik, bergantung pada dasar yang digunakan untuk
membuat klasifikasi. Konflik berdasarkan
fungsinya, Robbins(1996: 430)
membagi konflik menjadi dua macam, yaitu konflik fungsional (functional
conflict) dan konflik disfungsional (disfunctional conflict).Berdasarkan
pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman(1989: 393) membagi konfik menjadi enam macam, yaitu konflik dalam diri individu (conflict within the individual), konflik antar individu (conflict among individuals), konflik antara individu dan kelompok (conflict
among individuals and groups), konflik antar kelompok dalam organisasi yang
sama (conflict among groups in the same
organization), konflik
antarorganisasi (conflict among organizations), konflik antar individu dalam organisasi
yang berbeda (conflict among individuals in different organizations). Sedangkan konflik dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasiWinardi(1992: 174) membagi konflik menjadi emapat macam, dilihat
dari posisi seseorang dalam struktur organisasi, yaitukonflik vertical, konflik horizontal, konflik
garis-staf, dan konflik
peran.
3.2.Saran
Untuk mengatasi konflik diperlukan pihak yang dapat
bersikap netral dalam mengambil sebuah keputusan sehingga konflik dalam
manajemen dapat diatasi dan diarahkan ke arah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2011. Manajemen Sumber Daya manusia Perusahaan.Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Siagian, Sondang P. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Bumi Aksara.
Anatan, Lina dan Lena Ellitan.2007. Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Bisnis
Modern.Bandung: Alfabeta.
Umam, Khaerul. 2012. Manajemen Organisasi. Bandung: Pustaka
Setia.
Usman, Husaini. 2014. Manajemen (Teori, Praktik dan Riset
Pendidikan Edisi 4). Jakarta: Bumi Aksara.
[1]
Khaerul Umam, Manajemen Organisasi, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 261
[2]Lina
Antana dan Lena Ellitan, Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Bisnis Modern,
Alfabeta, Bandung, hlm. 46
[3]
Khaerul Umam, hlm. 265-267
[4]
Khaerul Umam, hal 273
[5]
Ibid, hal 273-277
[6]
Husain Usman, 2014, Manajemen, Bumi
Aksara, Jakarta, hal. 507-508
[7]Lina
Antana dan Lena Ellitan, hlm. 51-52

Tidak ada komentar:
Posting Komentar