UJIAN
TENGAH SEMESTER
POTENSI
ONTOLOGI ADMINISTRASI
Dosen: Drs. H. Ahmad Syamsir, M.Si.
24 1168010203 Novi Fadia
ADMINISTRASI PUBLIK/ E/II
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017
1.
Pengertian
Potensi
Secara umum, potensi adalah sebuah kemampuan dasar yang
dimiliki manusia yang sangat mungkin untuk dikembangkan, sehingga pada intinya
potensi sendiri berarti suatu kemampuan yang masih bisa dikembangkan menjadi lebih
baik lagi. Pada manusia sendiri sangat penting untuk memahami potensi diri sendiri, sehingga dapat mengembangkan kemampuan yang tepat
dan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Dengan mengembangkan potensi diri,
anda akan menjadi lebih bermanfaat dan akan merasa lebih hidup apabila anda benr-benar
memahami potensi diri dan mengembangkannya.
Ada banyak sekali pakar yang mencoba mendeskripsikan arti
kata dari potensi, salah satu pakar yang mencoba mendeskripsikan kata potensi
adalah Wiyono. Menurutnya potensi memiliki arti kemampuan dasar dari seseorang
yang masih terpendam dan mampu untuk dimunculkan menjadi kekuatan yang nyata.
Dari pendapat Wiyono tersebut potensi dapat diartikan sebagai kemampuan yang
masih terpendam dan siap untuk diwujudkan dan dapat dimanfaatkan dalam
kehidupan manusia itu sendiri. Sementara menurut Majdi, potensi adalah
kemampuan yang masih bisa dikembangan lebih baik lagi, secara sederhana potensi
merupakan kemampuan terpendam yang masih perlu untuk dikembangkan.
Potensi terbagi menjadi beberapa jenis, salah satu
jenisnya adalah potensi berfikir. Potensi berfikir sendiri dimiliki oleh semua
manusia di dunia ini, hal ini membuat manusia dimungkinkan untuk mempelajari
hal-hal baru dan juga menghasilkan ide-ide dan juga pemikiran baru ataupun
informasi baru. Selain itu ada juga potensi fisik yang merupakan potensi yang
dimiliki manusia dalam sisi fisik yang biasanya dapat melakukan gerakan yang
efektif dan efisien. Orang yang memiliki potensi fisik akan mudah mempelajari
segala macam olahraga dan segala jenis permainan dalam olahraga seperti
sepakbola, bulu tangkis, dan lain sebagainya.
2.
Pengertian
Ontologi
Ontologi merupakan bagian mendasar dari filsafat, baik
secara subtansial maupun ditinjau dari segi historisnya, karena kelahiran atau keberadaan ontologi tidak lepas dari peran
filsafat. Sebaliknya pula perkembangan ontologi memperkuat keberadaan filsafat.
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu
apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Dalam filsafat juga terdapat struktur,
yang dimaksud struktur disini cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori)
dalam setiap cabang itu. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu
tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering
juga disebut sistematika filsafat. (Ahmad Tafsir, 2015: 66)
Menurut bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani On/Ontos yang berarti ada dan Logos berarti ilmu. Jadi, ontologi
adalah ilmu tentang yang ada. Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang
membahas tentang hakikat yang ada. Menurut Ensiklopedi Britannica yang juga
diangkat dari konsepsi Aristoteles, ontologi adalah teori atau studi tentang
being/wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas.
Ontologi sinonim dengan metafisika, yaitu studi filosofis
untuk menentuan sifat nyata yang asli (real nature) dari sutau benda untuk
menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut (Filosofi ini
didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang “yang
ada”. “Yang ada” disini memiliki penegertian yaitu: istilah ini menunjuk
terhadap apa-apa yang benar-benar ada di dunia, baik “yang ada” sebagai
kenyataan, yang tampak depan mata ataupun dapat dicerap oleh pancaindera.
(Masykur Arif Rahman, 2013: 18) Jadi, ontologi adalah
pemikiran tentang yang ada dan keberadaanya.
Pemikiran ontologi dalam administrasi tentunya diawali
dari pembuktian, atau dengan kata lain penyelidikan yang dilakukan secara sadar
dan mendalam sampai ke akar permasalahan yang sesungguhnya dan dapat
diberlakukan kapan saja dan dimana saja serta relatif fundamental kedudukannya.
Ontologi ilmu administrasi mencari pengertian menurut asal mula dan akar kata
yang paling terdalam.
Dengan kata lain, ontologi administrasi adalah pemikiran
yang berdasarkan hakikat dan makna yang dikandung ilmu administrasi itu sendiri
sebagai salah satu cabang ilmu administasi.
Ilmu administrasi merupakan hasil pemikiran dan penalaran
manusia yang disusun berdasarkan dengan rasionalitas dan sistematika yang mengungkapkan
kejelasan tentang objek formal, yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu
keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi yang dilakoni oleh manusia dan objek
material, yaitu manusia yang melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerja sama menuju terwujudnya
tujuan tertentu.
Aliran dalam ontolog itu ada 3, diantaranya:
a.
Monoisme,
aliran ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu
hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Aliran ini terbagi menjadi dua paham, yaitu Materialisme
dan Idealisme.
b.
Dualisme,
aliran ini yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentanga,
yaitu materialisme dan idealisme.
c.
Pluralisme,
aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan.
Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictonary of
Philosophy and Religion dikatakan sebagai aliran yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua
entitas.
3.
Pengertian
Administrasi
Secara
etimologi, administrasi berasal dari bahasa latin, yaitu kata ad dan ministrate. Kata ad artinya
intensif, sedangkan ministrate artinya melayani, membantu, atau
mengarahkan. Jadi, pengertian administrasi adalah melayani secara intensif.
Ada
juga yang berpendapat bahwa kata administrasi diambil dari kata "ad"
dan "ministro". “Ad” mempunyai arti kepada dan “ministro” berarti melayani. Dengan demikian,
diartikan sebagai pelayanan atau pengabdian terhadap subjek tertentu. Selain
itu, kata administrate berasal dari bahasa Belanda, yang artinya lebih sempit
dan terbatas pada aktivitas ketatausahaan, yaitu kegiatan penyusunan dan
pencatatan keterangan yang diperoleh secara sistematis, berfungsi mencatat
hal-hal yang terjadi dalam organisasi sebagai bahan laporan bagi pimpinan,
mencakup kegiatan tulis-menulis, mengirim dan menyimpan keterangan dan
dikaitkan pula dengan aktivitas administrasi perkantoran yang hanya merupakan
salah satu bidang aktivitas administrasi yang sebenarnya. (Yusak Burhanudin,
2005: 11)
Menurut Herbert A. Simon: “Administration can be defined as the activities of groups cooprating
to accomplish common goals”. Jadi, baginya administrasi dapat dirumuskan
sebagai kegiatan-kegiatan kelompok kerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan
bersama.
Menurut The Liang Gie, administrasi adalah segenap
rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh
sekelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu.
(Inu Kencana Syafiie, 2014: 4)
Secara
bebas, administrasi dapat diartikan pelayanan atau pengabdian terhadap subjek
tertentu. Hal ini karena pada masanya, administrasi dikenakan pada pekerjaan
yang berkaitan dengan pengabdian dalam tugas penyelenggaraan pemerintahan.
Kemudian, berkembang ke berbagai aktivitas organisasi lain, seperti
perusahaa dan lembaga lain.
Administrasi
juga diartikan sebagai pelayanan terhadap semua kebutuhan institusional dengan
cara yang efektif dan efisien. Administrasi merupakan salah satu komponen dari
sistem yang semua subsistemnya saling berkaitan satu sama lain. Selain itu,
administrasi merupakan aktivitas-aktivitas untuk nencapai suatu tujuan, atau
proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan
kata lain, administrasi adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha
kerja sama dua orang atau lebih atau usaha bersama untuk mendayagunakan semua
sumber (personel maupun material) secara efektif, efisien, dan rasional untuk
menunjang tercapainya tujuan. (Rahmat, 2013: 24)
4.
Potensi
Ontologi Administrasi
Dengan spontanitas, potensi ontologi ilmu administrasi
adalah pemikiran manusia terhadap isi dunia ini. Persoalannya, apakah manusia
memiliki kemampuan dalam berfikir dan bertindak untuk menciptakan pengaturan
dan keteraturan isi dunia? Jawaban yang dapat diberikan harus ada dalam
kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan pemikiran manusia, dan ini pulalah yang
menyebabkan adanya perbedaan dalam cara berfikir manusia terhadap kekurangan,
kelemahan, dan keterbatasan itu.
Argumentasi jawaban yang dilontarkan menurut hakikatnya, tidak ada halangan atau hambatan bagi para ilmuwan
administrasi dimana saja dan kapan saja untuk melakukan tindakan dan pemikiran
tentang penciptaan pengaturan dan keteraturan itu secara optimal. Segala jenis
bipolaritas yang mensyaratkan terciptanya pengaturan dan keteraturan dalam ilmu
administrasi menunjukkan adanya kemungkinan, dan bahkan keinginan akan
integritas secara maksimal.
Kewajiban para ilmuan dalam berfikir, berdasarkan
pemikiran ontologi secara kebenaran transidental dan kebenaran empirikal,
terletak kepada struktur penalaran setiap ilmuwan administrasi. Jikalau terjadi
kekurangan harmoni, kekurangan kebenaran, dan kebaikan, maka hal itu bukanlah
muncul dari hakikat ontologi ilmu administrasi, tetapi merupakan suatu kejadian
entah karena alasan apa dan kenyataan selalu ada, sepanjang masih ada yang ada.
(Makmur, 2012: 45)
5. Analisis
Dalam kajian potensi ontologi administrasi itu, potensi
yang digunakan adalah potensi berfikir, bagaimana cara seseorang berfikir dan
mengembangkan ilmu yang ada dengan menggalinya lebih dalam agar menghasilkan
ilmu yang baru atau dapat memperbaiki ilmu-ilmu yang sebelumnya.
Jadi, secara garis besar objek kajian dari ilmu
administrasi terdiri dari dua bagian, yaitu:
a.
Objek
material, yaitu sesuatu yang bersifat nyata (ilmu administrasi) dengan objeknya
manusia.
b.
Objek
formal, yaitu aspek khusus kepada objek matrial yang diselidiki dan dideskripsikan
oleh suatu ilmu (rangkaian kegatan manusia untuk mencapai tujuan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar