RESUME
METODE PENELITIAN SOSIAL
karangan: Dr. Irawan Soehartono
karangan: Dr. Irawan Soehartono
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Sosial
Dosen: Dr. Ai Siti Farida, M. Si.
Dosen: Dr. Ai Siti Farida, M. Si.
Disusun oleh :
Novi Fadia
NIM 1168010203
NIM 1168010203
ADMINISTRASI PUBLIK/ III/E
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2017
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2017
BAB I
PENELITIAN DAN
ILMU
Penelitian dan ilmu merupakan dua hal yang tidak
dapat dipisahkan. Penelitian merupakan alat bagi ilmu untuk dapat
mengembangkannya. Dengan penelitian, kemajuan ilmu dapat terus ditingkatkan
agar dapat menjelaskan gejala-gejala, sermasuk gejala-gejala social.
A.
Arti penelitian
Dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia, kata penelitian
diartikan sebagai pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan; sedangkan kata penyelidikan diartikan sebagai
pemeriksaan atau pengusutan; dan kata menyelidiki
berarti memeriksa dengan teliti, mengusut dengan cermat atau menelaah
(mempelajari) dengan sungguh-sungguh (Poerwadarminta, 1976).
Kata penelitian
atau penyelidikan tersebut
digunakan sebagai padanan kata research dalam
Bahasa Inggris. Kata research ini
berasal dari kata Latin reserare yang
berarti mengungkapkan atau membuka (Goldstein, 1963).
Riset atau penelitian
merupakan kegiatan yang sistematik yang dimaksudkan untuk menambah pengetahuan baru
atas pengetahuan yang sudah ada, dengan cara yang dapat dikomunikasikan dan
dinilai kembali (Macdonald, 1960). Jadi, penelitian merupakan upaya untuk
menambahkan dan memperluas pengetahuan, yang selain untuk menghasilkan
pengetahuan yang baru sama sekali yaitu yang sebelumnya belum ada atau belum
dikenal, juga termasuk pengumpulan keterangan baru yang bersifat memperkuat
teori-teori yang siudah ada, atau juga bahkan yang menyangkal teori-teori yang
sudah ada.
Agar hasil penelitian yang
ditemukan dapat menghasilkan penelitian yang teruji, maka setiap penelitian
harus dapat diulangi kembali agar dapatditentukan kebenarannya.
B.
Pentingnya mempelajari metode penelitian
Media massa,
khususnya media massa cetak seperti surat kabar, sering memberitakan kondisi
suatu masyarakat atau juga sering melaporkan hasil suatu penelitian, baik
laporan penelitian biasa maupun ringkasan desertasi untuk mendapatkan gelar
doktor pada suatu perguruan tinggi walalupun hanya secara singkat. Bagi
sebagian besar orang, apa yang diperoleh sebagai hasil penelitian mungkin akan
diterima begitu saja sebagai kebenaran. Akan tetapi, bagi seseorang yang
kritis, apa yang dipaparkan sebagai hasil pengamatan atau penelitian tersebut
tidak akan langsung diterima begitu saja sebelum cara atau prosedur dalam
mendapatkan temuan tadi dikaji dengan seksama. Untuk dapat melakukan pengkajian
seperti ini, hanya memungkinkan jika seseorang memahami prinsip-prinsip yang
digunakan dalam penelitian. Dengan demikian, metode penelitian perlu dipelajari
jikakita ingin bisa berfikir kritis.
C.
Cara pendekatan kepada pengetahuan
Cara pertama
disebut metode rasionalistik yang
sering dipandang sebagai metode yang pertama muncul. Berdasarkan metode ini,
pengetahuan dikatakan berasal dari proses pemikiran. Pendekatan ini memandang
bahwa indera manusia mudah keliru dengan menunjukkan bahwa tidak semua orang
dapat melihat atau mendengar dengan sama baiknya.
Cara kedua disebut metode empirik. Metode ini menganggap
bahwa semua pengetahuan berasal dari indera-indera dan menujukkan
kesulitan-kesulitan yang kita hadapi apabila kita mendasarkannya pada akal.
Kebenaran ilmu pengetahuan akan didapat apabila sesuai dengan kenyataan. Ini berarti
bahwa pengalaman empirik merupakan dasar bagi ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan
modern memang menerima prinsip pendekatan yang kedua, yaitu bahwa kebenaran
ilmu pengetahuan haruslah sesuai dengan kenyataan, yang berarti harus didasrkan
pada pengalaman empirik. Akan tetapi, pengalaman empirik saja tidak cukup
karena kenyataannya empirik tidak berbicara dengan sedirinya. Kenyataan empirik
harus dihubung-hubungkan secara berarti. Untuk itu, diperlukan kerangka
berfikir yang rasional. Dengan demikian, ilmu pengetahuan modern menggunakan metode deduktif maupun metode induktif secara bersama-sama
sehingga saling melengkapi.
D.
Unsur-unsur ilmu
Suatu bangunan didirikan
atas dasar fondasi, tiang, dinding dan sebagainya. Demikian pula ilmu
pengetahuan didasarkan atas fondasi yang berupa teori-teori dan hipotesis-hipotesis.
Teori dan hipotesis pada hakikatnya merupakan proposisi (pernyataan), dan proposisis ini menghubungkan variabel-variabel.
Konsep pada hakikatnya merupakan istilah, yaitu satu kata atau
lebih yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan)
tertentu.
Tingkat abstraksi
konsep tidak sama. Ada konsep yang mempunyai tingkat abstraksi rendah, karena
apa yang digambarkan oleh konsep tersebut dapat secara langsung ditemukan
melalui panca indera kita.
Suatu konsep
mungkin memiliki sua nilai atau lebih pada suatu kontinum. Konsep yang demikian
disebut variabel. Nilai suatu
variabel dapat dinyatakan dengan angka atau dengan kata-kata. Contoh variabel
yang nilainya dinyatakan dengan angka adalah umur dan kepadatan penduduk.
Konsep yang hanya
memiliki satu nilai bukan merupaka variabel. Contoh konsep semacam ini adalah
“merah”. Akan tetapi, “kemerah-merahan” merupakan variabel karena mempunyai
lebih dari satu nilai, misalnya “merah muda” dan “merah tua”.
Berdasarkan
hubungannya, variabel dapat dibedakan menjadi variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas adalah
variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab bagi variabel lain. Variabel
terikat adalah yang dipengaruhi atau dibebaskan dengan variabel lain.
Berdasarkan
dapat-tidaknya dimanipulasi, variabel dapat dibedakan menjadi variabel aktif dan variabel atribut (Kerlinger, 1986). Saslow (1982) menyebutnya
sebagai variabel nonsubjek dan variabel subjek. Variabel aktif atau
variabel nonsubjek adalah variabel yang dapat dimanipulasi, artinya peneliti
dapat melakukn sesuatu yang menyangkut variabel tersebut pada sekelompok orang
dan melakukan hal lain pada kelompok lain, misalnya pemberian bantuan dengan
konseling dan pemberian bantuan tanpa konseling.
Proposisi adalah pernyataan tentang suatu konsep atau lebih.
Ihipotesis adalah proposisi yang masih bersifat sementara dan masih harus diuji
kebenarannya.
Penelitian
dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang tidak akan terjawab tanpa
melakukan penelitian karena memerlukan data empirik.
Teori merupakanproposisi yang memberikan penjelasan atas suatu
gejala. Teori memberi kan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana.
Biasanya, walaupun tidak selalu, teori merupakan rumusan yang menyatakan
hubungan sebab-akibat anatar dua variabel atau lebih.
Fakta adalah pernyataan yang secara empirik benar. Jadi, fakta
adalah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan. Sedangkan data adalah hasil penelitian atau pengamatan yang menjadi dasar
untuk menarik kesimpulan lebih lanjut.
E.
Sikap ilmiah
Sikap yang harus
dimiliki oleh setiap sarjana atau ilmuwan tersebut disebut sebagai sikap ilmiah. Sikap ilmiah ini adalah
sebagai berikut (Harsojo, 1972):
1.
Sikap objektif, adalah keadaan objek, masalah, atau
gejala sebagaimana adanya merupakan hal yang palig penting.
2.
Sikap relatif, merupakan sikap ilmiah kedua yang perlu
ditegakkan.
3.
Sikap skeptik, berarti bahwa seorang sarjana atau ilmuwan
harus tetap bersikap ragu-ragu atau tidak mudah percaya pada
pernyataan-pernyataan tersebut belum didukung oleh data yang cukup kuat.
4.
Kesabaran intelektual, berarti bahwa seorang ilmuwan
tidak mudah menyerah dan kuat menahan tekana untuk menyatakan suatu pendirian
ilmiah serta tetap berusaha mendapatkan data dan fakta yang diperlukan untuk
mendukung pernyataan atau pendirian tadi.
5.
Kesederhanaan, berarti bahwa cara berfikir, cara
menyatakan pendapat, atau cara pengujian dilakukan dengan cara sederhana.
6.
Sikap tidak memihak kepada etika, berarti bahwa tidak
bermaksud membuat penilaian baik atau buruk, tetapi mempunyai tugas untuk
membuat pernyataan tentang mana yang benar dan mana yang salah secara empirik.
F.
Metode dan rancangan penelitian
Metode penelitian
adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang
diperlukan.
Metode penelitian
dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.
Metode historik digunakan jika data
yang diperlukan terutama berkaitan dengan masa lalu, sehingga teknik
pengumpulan data yang digunakan terutama adalah studi dokumenter atau mungkin
juga studi artifak, walaupun wawancara juga dapat digunakan apabila pelaku
sejarah yang bersangkutan masih hidup.
2.
Metode survei merupakan metode
yang memperoleh data yang ada pada saat penelitian yang dilakukan.
3.
Metode eksperimen digunakan jika data
yang diinginkan sengaja ditimbulkan atau didorong munculnya.
Rancangan atau desain (design) penelitian merupakan rencana
atau pola ayang akan diikuti dalam pelaksanaan penelitian, termasuk alisisnya.
BAB II
PENELITIAN
PEKERJAAN SOSIAL
Dalam profesi pekerjaan social, dikenal adanya
penelitian pekerjaan social (social work
research) atau kadang-kadang disebut juga sebagai penelitian kesejahteraan
social. Ini sejalan dengan ilmu atau profesi lain, seperti misalnya profesi
pendidikan yang mempunyai metode penelitian yang disebut penelitian pendidikan.
A.
Komponen pekerjaan social
Pekerjaan social sebagai suatu profesi – walaupun
masih muda, khususnya di Indonesia – mempunyai pengertian yang berbeda dengan
pekerjaan social menurut pengertian orang awam. Pekerjaan social menurut
orangawam adalah pertolongan atau bantuan yangdiberikan kepada oranglain yang
hanya berdasarkan padarasa kasih sayang, belas kasihan, kebaikan hati, kewajibn
menuruti ajaran agama, atau pengabdian kepada sesame manusia saja.
Pekerjan social sebagai haruslah didasari oleh ilmu
pengetahuan yang dipelajari dan disampaikan oleh suatu lembaga pendidikan
tinggi.
Pekerjaan social sebagai profesi dikatakan mempunyai
tiga komponen yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Komponen pekerjaan social – jika belum dikaitkan
dengan orangnya, yaitu apa yang akan dipelajari dan diajarkan disuatu lembaga
pendidikan terdiri atas:
1.
Nilai-nilai
2.
Pengetahuan
3.
Sekumpulan alat
intervensi (interventive repertoire)
(Bartlett, 1970)
Nilai-nilai professional ini masih dapat
dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu : komponen tentang orang yang
dikehendaki/disenangi, hasil (outcome)
dari orang yang dikehendaki/disenangi, dan tata cara dalam menghadapi orang
yang dikehendaki/disenangi (Levy,1973).
B.
Penelitian pekerjaan social dan penelitian social
Penelitian pekerjaan social semula hanya dimulai
dengan masalah-masalah praktis dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang
dapat digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan program-program pekerjaan
social. Jadi, hasilnya langsung dapat digunakan untuk keperluan-keperluan
praktis, yaitu untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia. Dengan demikian,
penelitian pekerjaan social seperti ini tergolong ke dalam penelitian terapan (applied research). Akan tetapi,
denganperkembangan praktik pekerjaan social, ternyata upaya para peneliti
pekerjaan social tidak hanya puas dan terbatas pada hal-hal yang praktis dan
yang langsung dapat digunakan.
Penelitian pekerjaan social bagian atau pengkhususan
dari penelitian social, yaitu penelitian yang berfungsi melayani pengembangan
ilmu-ilmu social.
C.
Topik-topik penelitian pekerjaan social
Setelah menghaji beberapa literature, Friedlander
(1977) mengemukakan jenis-jenis penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut:
1.
Studi
yangmengidentifikasi dan mengukur factor-faktor yang menyebabkan masalah social
dan yang memerlukan pelayanan social.
2.
Studi tentang
sejarah lembaga-lembaga amal,perundang-undangan kesejahteraan social,
program-program kesejahteraan social, dan konsep-konsep pekerjaan social.
3.
Studi tentang
ekspektasi, persepsi, dan evaluasi situasi pekerja-pekerja social.
4.
Studi tentang
maksud, tujuan, dan citra diri pekerja social.
5.
Studi tentang
hubungan antara ekspektasi, maksud, dan tindakan-tindakan pekerja social.
6.
Studi tentang
isi proses pekerjaan social.
7.
Studi yang
menguji memadai-tidaknya pelayanan social yang tersedia dihubungkan dengan
kebutuhan-kebutuhan individu, kelompok, dan masyarakat.
8.
Studi yang
menguji, mengukur, dan mengevaluasi akibat pelaksanaan pekerjaan social, serta
meneliti kompetensi yang diperlukan untik praktik pekerjaan social.
9.
Studi tentang
ekspektasi, tujuan, dan presepsi klien, dan evaluasi situasi.
Selanjutnya dengan menggunakan tipe-tipe penelitian
Philip Klein, Friedlander dan Apte (1982) mengelompokan penelitian
kesejahteraan social menjadi sebagai berikut:
1.
Untuk
mengadakan, mengidentifikasi, dan mengukur kebutuhan-kebutuhan akan pelayanan
social.
2.
Untuk mengukur
pelayanan yang diberikan.
3.
Untuk menguji,
mengukur, dan mengevaluasi hasil kegiatan pekerjaan social.
4.
Untuk menguji
hasil teknik-teknik pekerjaaan social tertentu.
5.
Untuk
mengembangkan metodologi penelitian pekerjaan social.
Dalam setiap kelompok terdapat berbagai macam topic
atau judul. Sebagai contoh, dapat dikemukakan beberapa topic tersebut.
1.
Profesi
pekerjaan social
2.
Teori dan
praktik
3.
Bidang
pelayanan’
4.
Isu-isu
social/masalah sosial
D.
Penelitian pekerjaan social dan praktik pekerjaan
social
Penelitian pekerjaan social dapat memberikan
standard an metode ilmiah yang dapat digunakan oleh pekerja social dalam
melaksanakan praktik pekerjaan social, karena antara penelitian pekerjaan
social dan praktik pekerjaan social terdapat persamaan-persamaan tertentu.
Sehubungan dnegn kegiatan-kegiatan yang dilakukan,
persamaannya adalah bahwa penelitian melakukan kegiatan yang disebut
pwngumpulan data; sementara itu, dalam praktik pekerjaan social juga ada
kegiatan pengumpulan data yang biasa dikenal dengan istilah assessment.
E.
Proses penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan karena didorong oleh
rasa ketidakpastian atau ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Meskipun
demikian, pada prinsipnya, langkah-langkah tersebut meliputi hal-hal berikut:
1.
Identifikasi dan
perumusan masalah
2.
Penentuan unit
dan sumber data
3.
Pengumpulan data
4.
Pengolahan dan
analisis data
5.
Kesimpulan dan
penyajian laporan
BAB III
PERUMUSAN
MASALAH
Perumusan masalah adalah hal yang sangat penting
karena langkah ini akan menentukan kemana suatu penelitian diarahkan. Perumusan
masalah pada hakikatnya merupakan perumusan pertanyaan yang jawabannya akan
dicari melalui penelitian.
A.
Sumber masalah
Masalah yang akan diteliti pertama-tama tentu saja diwarnai
atau dibatasi oleh kerangka acuan seorang peneliti.
Dalam menemukan suatu masalah yang akan diteliti,
yang paling mungkin dilakuakan adalah membaca literature. Membaca topik yang
menarik perhatian dan kemudian mengkajinya akan snagat membantu untuk dapat
mennemukan permasalahan yang perlu dan dapat diteliti. Sumber yang sangat
penting dalam program membaca dalam rangka menemukan suatu masalah penelitian
adalah jurnal. Jurnal sering membuat
artikel yang membahas aspek-aspek tertentu dari suatu ilmu pengetahuan.
B.
Proses perumusan masalah
Tahap pertama dalam perumusan masalah adalah adanya
kebutuhan yang dirasakan (left need).
Langkah selanjutnya adalah memeriksa masalah yang
akan diteliti dalam hubungannya dengan pengetahuan yang telah tersedia, dan
penelitian apa saja yang pernah dilakukan yang menyangkut variable yang akan
diteliti.
Pertimbangan lainyang tidak boleh diabaikan dalam
memilih suatu masalah penelitian adalah kegunaan atau manfaat hasil penelitian
tersebut.
Dalam hubungan dengan perumusan masalah, Kerlinger
(1986) mengemukakan tiga kriteria, yaitu:
1.
Masalah harus
menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih.
2.
Masalah harus
dinyatakan secara jelas tanpa meragukan dalam bentuk pertanyaan.
3.
Masalah harus
dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat diuji secara empieik.
C.
Pertanyaan penelitian
Pertanyaan-pertanyaan penelitian dapat digolongkan
menjadi empat macam.
1.
Pertanyaan yang
akan dijawab oleh suatu penelitian dapat berupa pertanyaan tentang
karakteristik suatu populasi.
2.
Pertanyaan
penelitian lain dapat berkaitan dengan frekuensi suatu gejala.
3.
Suatu penelitian
juga dapat mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara variable-variable,
sebagaimana disyaratkan oleh Karlinger (1986).
4.
Pertanyaan yang
paling penting untuk dijawab oelh suatu penelitian tidak hanya ingin mengetahui
hubungan antara variable-variable tetapi lebih jauh lagi, yaitu menyatakan
hubungan sebab-akibat antara dua variable atau lebih.
D.
Perumusan hipotesis
Hipotesis adalah suatu pernyataan yang masih harus diuji
kebenarennya secara empiric.
Sejalan dengan pertanyaan penelitian, hipotesisi
juga dapat dirumuskan dalam beberapa cara:
1.
Hipotesis yang
menyatakan bahwa sesuatu mempunyai ciri tertentu.
2. Hipotesis yang menyaatakan frekuensi terjadinya
sesuatu.
3. Hipotesis yang menyatakan hubungan antara dua
variable atau lebih.
4. Hipotesis yang tertinggi tingkatannya adalah
hipotesis yang menyatakan hubungan sebab-akibat antara dua varaiabel atau
lebih.
E.
Definisi formal dan definisi operasional
Definisi formal menjelaskan konsep dengan kata-kata
atau istilah lain atau sinonimnya yang dianggap sudah dipahami oleh pembaca.
Definisi seperti ini tampak seperti definisi yang tercantum dalam kamus.
Definisi formal belum cukup untk dapat dijadikan
dasar dalam melakukan penelitian sehingga memerlukan definisi lain, yaitu
definisi operasional. Definisi operasional menyatakan bagaimana operasi atau
kegiatan yang harus dilakuakan untuk memperoleh data atau indicator yang menunjukkan
konsep dimaksud. Definisi inilah yang diperlukan dalam penelitian karena
definisi ini menghubungkan konsep atau konstruk yang doteliti dengan gejala
empiric.
F.
Unit analisis
Dalam perumusan masalah, harus sudah terbayang pula
apa yang menjadi unit analisis penelitian. Unit analisis ini menunjukkan siapa
atau apa yang mempunyai karakteristik yang akan diteliti.
BAB IV
PENELITIAN
EKSPLORATORI DAN PENELITIAN DESKRIPTIF
Tujuan penelitian ddapat dibedakan menjadi empat
golongan, yaitu:
1.
Untuk lebih
mengenal atau memperoleh pandangan baru tentang suatu gejala, yang seringkali
untuk dapat merumuskan masalah penelitian dengan lebih tepat atau untuk dapat
merumuskan hipotesis;
2.
Untuk
menggambarkan dengan lebih teliti ciri-ciri individu, situasi, atau kelompok;
3.
Untuk menentukan
frekuensi terjadinya sesuatu atau hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain;
4.
Untuk menguji
hipotesis yang menyatakan hubungan seba-akibat antara dua variable atau lebih
(Selltiz, Wringhtsman,& Cook, 1976).
Penelitian yang mempunyai tujuan pertama disebut penelitian eksploratori (penjajagan)atau
penelitian formulatif.
Penelitian yang mempunyai tujuan kedua dan ketiga
disebut penelitian deskriptif.
A.
Penelitian eksploratori
Penelitian eksploratori ini dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu :
1.
Survei
literature, penelitian ini dilakukan dengan mempelajari bahan tertulis,
khususnya artikel-artikel yang tercantum dalam jurnal atau majalah ilmiah.
2.
Survei
pengalaman, yaitu mencari informasi dari orang-orang yang ahli atau
berpengalaman dalam suatu bidang permasalahan tertentu atau dari orang yang
berpengalaman atau sudah lama berkecimpung dalam permaslahan tersebut.
3.
Studi tentang
kasus tertentu, penelitian eksploratori dapat juga dilakuakan dengan
mempelajari catatan-catatan kasusu (case
record) mengenai suatu permasalahan.
B.
Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif seperti ini menggunakan metode
survei (Atherton & Klemmack, 1982). Penelitian deskriptif ini meliputi:
1.
Penelitian yang
menggambarkan karakteristik suatu masyarakat atau suatu kelompok orang
tertentu.
2.
Penelitian yang
menggambarkan penggunaan fasilitas masyarakat.
3.
Penelitian yang
memperkirakan proporsi orang yang mempunyai pendapat, sikap, atau bertingkah
laku tertentu.
4.
Penelitian yang
berusaha untuk melakukan semacam ramalan.
5.
Penelitian deskriptif
lain adalah penelitian yang mencari hubungan antara dua variable atau lebih.
BAB V
PENELITIAN
PENJELASAN
A.
Rancangan-rancangan praeksperimen
Untuk
melakukan penelitian penjelasan, yaitu penelitian yang menguji hubungan sebab
akibat, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai rancangan yang akan dibahas
berikut ini :
1.
Studi kasus satu tembakan (one shot case study)
Rancangan
ini terdiri atas satu kelompok subjek penelitian yang diberi perlakuan
(variabel bebas) yang diteliti. Berikut gambar yang menunjukan rancangan ini:
X O
2.
Rancangan sebelum-sesudah dengan satu kelompok (one
group pretest-posttest design)
Dalam
rancangan ini, pengamatan atau pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah
variabel bebas atau perlakuan dikenakan pada kelompok subjek yang diteliti.
Berikut gambar yang memperlihatkan rancangan ini :
O1 X O2
Rancangan
ini juga mempunya kelemahan karena terdapat enam variabel luar yang tidak
terkontrol yang merupakan ancaman terhadap validitas intern. Adapun ancamannya
adalah :
1. Sejarah
2. Kematangan
3. Pengukuran
4. Alat
ukur
5. Regresi
statistik
6. Berkurangnya
subjek (mortality)
7. Rancangan
perbandingan kelompok statik
3.
Rancangan perbandingan kelompok static (static group
comparison dsign)
Rencana ini
menggunakan dua kelompok. Rencana ini digambarkan dalam diagram berikut:
O2
B.
Rancangan-rancangan eksperimen yang benar
Rancangan-rancangan eksperimen yang
sebenarnya dapat mengontrol variabel-variabel luar tersebut. Peneliti dapat
sepenuhnya melakukan kontrol atas pelaksanaan eksperimen, apabila:
·
Setiap subjek penelitian dapat
ditempatkan secara acak dalam salah satu kelompok
·
Peneliti dapat menentukan bilamana
perlakuan atau variabel bebas akan diberikan
·
Peneliti dapat menentukan bilamana
pengamatan atau pengukuran akan dilakukan
1.
Rancangan sebelum-sesudah dengan kelompok control
(pretest-posttest control group design)
Rancangan ini menggunakan dua kelompk
subjek yang dibandingkan berdasarkan pengamatan atau pengukuran atas variabel
terikat. Kedua kelompok diamati atadu diukur dua kali, yaitu sebelum perlakuan
atau sebelum diberikannya variabel bebas dan sesudah diberikannya
perlakuan/variabel bebas. Berikut bagan dari rancangan sebelum sesudah dengan
kelompok kontrol:
R O1 X O2
R O3 O2
2.
Rancangan sesudah saja dengan kelompok control
(pretest-only control group design)
Rancangan ini sama dengan rancangan
eksperien yang pertama, kecuali jika pengukuran sebelum perlakuan tidak
dilakukan pada kedua kelompok. Berikut bagam rancangan ini :
R X O1
R O2
3.
Rancangan empat-kelompok Solomon (Solomon four-group
design)
R O1 X O2
R O3 O4
R X O5
R O6
Pada
bagan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa:
1. Subjek
penelitian dibagi ke dalam empat kelompok secara acak
2. Dua
kelompok pertama mendapat pengukuran sebelum perlakuan, dan dua kelompok
lainnya tidak
3. Kelompok
pertama dan ketiga mendapat perlakuan atau variabel bebas dan dua kelompok
lainnya tidak
4. Kepada
semua kelompok dilakukanpengukuran sesudah perlakuan
5. Hanya
satu dari kelompok kontrol mendapat pengukuran sebelum perlakuan
4.
Sumber-sumber vliditas ekstern (external invadity)
Terdapat dua macam validitas ekstern, yaitu
validitas populasi yang berarti bahwa hasil-hasil eksperimen dapat
digeneralisasi kepada subjek lain, dan validitas ekologi yangh berarti bahwa
hasil-hasil eksperimen dapat digeneralisasi kepada tempat atau kondisi lingkungan
lain.
C.
Rancangan-rancangan eksperimen kuasi
Rancangan-rancangan eksperimen kuasi
berarti rancangan-rancangan seperti, atau menyerupai rancangan eksperimen,
tetapi tentu saja yang tidak sama persis dengan rancangan-rancangan eksperimen
sebenarnya.
1.
Rancangan dengan kelompok control yang tidak sama
(nonequivalent control group design)
Rancangan ini menggunakan dua kelompok yang
membandingkan variabel terikat antara sebelum dan sesudah perlakuan.rancangan
ini hampir sama dengan rancangan sebelum-sesudah dengan kelompok kontrol.
Berikut bagan rancangan ini:
O O
2.
Rancangan sebelum-sesudah dengan sampel terpisah
(separate-sample pretest-posttest design)
Rancangan ini digunakan apabila peneliti
tidak dapat memberikan perlakuan yang berbedakepada dua kelompok yang dibagi
secara acak. Kentrol dilakukan dengan membagi kelompok secara acak, dan satu
kelompok diamati atau diukur sebelum perlakuan dan kelompok satunya diukur
setelah perlakuan. Berikut bagai rancangan ini :
R O
X
R X O
3.
Rancangan-rncangan rangkaian waktu (time-series
design)
Dalam rancangan ini, dilakukan pengamatan
atau pengukuran beberapa kali sebelum dan beberapa kali sesudah perlakuan atau
variabel bebas. Rancangan ini dapat menggunakan satu kelompom saja, atau dapat
menggunakan kelompok kontrol dengan beberapa variasi.
Bagan rancangan dengan satu kelompok
adalah:
O1 O2 O3 O4 O5 O6 O7 O8
BAB VI
PENELITIAN SURVEI
Kata survey terdiri
atas susku kata sur yang emrupakan turunan kata Latin super yang berarti diatas atau melampaui. Sedangkan suku kata vey berasal dari kata kerja Latin videre yang berarti melihat. Jadi,
kata survey berarti melihat diatas atau melampaui (Laedy, 1980).
Penelitian survei adalah penelitian pengamatan yang
berskala besar yang dilakukan pada kelompok-kelompok manusia (Saslow, 1982).
A.
Tujuan survei
Survei dapat dilakuakan dengan tujuan semata-mata
untuk memberikan gambaran tentang sesuatu. Survei semacam ini disebut survei deskriptif. Survei inilah yang
dilakukan oleh Charles Booth di Inggris (Easthope, 1974).
Tujuan lain dari survei aalah untuk melakukan
analisis, yang disebut sebagai metode
survei analitik. Data dalam survei analitik biasanya merupakan data
kuantitatif dan analisisnya menggunakan teknik statistic yang sesuai. Tujuan
survei ini adalah untuk menarik kesimpulan guna mendapat arti yang lebih jauh
yang tersembunyi dibalik data.
B.
Jenis-jenis survei
Survei biasanya dilakukan pada sebagian dari
populasi atau sampel sehingga biasa disebut sample
survey.
Survei yang mengajukan pertanyaan kepada responden
tentang suatu topik pendapat umum, misalnya sikap terhadap anak jalanan atau
sikap terhadap pemulung, disebut public
opinion poll. Cross-sectional survey adalah survei yang membandingkan dua
kelompok orang atau lebih untuk melihat perbedaaan yang da apada
kelompok-kelompok tersebut.
Survei yang akan melihat perubahan atau perkembangan
yang terjadi dalam perjalana waktu disebut survei
longitudinal.
BAB VII
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
A.
Populasi dan sampel
Jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu
objek yang akan diteliti, disebut populasi atau universe. Secara ideal, kita
sebaiknya meneliti seluruh anggota populasi. Sampel adalah suatu bagian dari
populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya.
Penelitian pada sampel hanya merupakan pendekatan pada populasinya.
B.
Syarat sampel yang baik
Suatu sampel dikatakan representatif
apabila ciri-ciri sampel yang berkaitan dengan tujuan penelitian sama atau
hampir sama dengan ciri-ciri populasinya. Suatu sampel yang baik juga harus
memenuhi syarat bahwa ukuran atau besarnya memadai untuk dapat meyakinkan
kestabilan ciri-cirinya. Dengan pendekatan statistik, kita dapat menentukan
besarnya suatu sampel jika kita dapat memperkirakan besarnya simpangan baku
(standard deviation) populasi dan kita menetapkan kesalahan maksimum yang dapat
kita terima dalam menaksir rata-rata populasi.
C.
Teknik sampling
Sebelum membahas cara-cara pengambilan
sampel, terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu. Setiap
satuan dari populasi yang merupakan sasaran akhir pengambilan sampel disebut sebagai
unsur sampling (sampling element). Suatu unit samplimg dapat berupa unsur
sampling tunggal atau suatu kumpulan unsur. Suatu kerangka sampling (sampling
frame) adalah daftar lengkap semua unit tempat mengambil sampel (Bailey, 1982).
Cara pengambilan sampel atau teknik sampling secara garis besar dapat
digolongkan menjadi dua yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.
1.
Probability sampling (pengambilan sampel berdasarkan
peluang)
Dalam suatu probability sampling, cara
pengambilannya dilakukan secara random atau acak.
a. Random
sampling (pengambilan samoel secara acak), prosedur pengambilan sampel secara
random ini dapat dilakukan dengan undian, yaitu dengan membuat
potongan-potongan kertas kecil yang masing-masing diberi nomor sesuai dengan nomor
pada kerangka sampling.
b. Systematic
random sampling (pengambilan sampel secara acak sistematik), cara ini dilakukan
dengan menggunakan interval tertentu, yaitu jika fraksi samplingnya sebesar
1/k, maka setiap unsur sampling yang ke-k diambil menjadi anggota sampel.
c. Stratified
random sampling (pengambilan sampel secara acak berlapis), cara pengambilan
sampelnya dilakukan dari setiap lapisan secara acak.
d. Cluster
random sampling (pengambilan sampel secara acak berumpun), dalam teknik
sampling ini yang menjadi unit sampling dalam kerangka sampling adalah
rumpun-rumpun, bukan unsur-unsur sampling itu sendiri. Oleh karena itu, dengan
teknik sampling ini, akan dilakukan pengambilan sampel lebih dari satu tahap
yang disebut multi-stage random sampling.
2.
Nonprobability sampling (pengambilan sampel tidak
berdasarkan peluang)
Dalam nonprobability sampling, kemungkinan atau peluang
seseorang untuk terpilih menjadi anggota sampel tidak diketahui.
a.
Accidental sampling (pengambilan sampel
secara kebetulan)
b.
Quota sampling (pengambilan sampel
berdasarkan jumlah)
c.
Purposive sampling (pengambilan sampel
berdasarkan tujuan)
d.
Snowball sampling (pengambilan sampel
seperti bola salju)
BAB VIII
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
A.
Angket
Angket (self-administered questionnaire) adalah teknik pengumpulan data
dengan menyerahkan atau mengirimkan data pertanyaan untuk diisi sendiri oleh
responden.
Keuntungan teknik angket adalah:
1.
Angket dapat menjangkau sampel dalam
jumlah besar karena dapat dikirimkan melalui pos.
2.
Biaya yang diperlukan untuk membuat
angket relatif murah.
3.
Angket tidak terlalu mengganggu
responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri sesuai dengan
kesediaan waktunya.
Kerugian
teknik angket adalah:
1. Jika
angket dikirimkan melalui pos, maka persentase yang dikembalikan relatif
rendah.
2. Angket
tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa membaca dan menulis.
3. Pertanyaan-pertanyaan
dalam angket dapat ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat
penjelasan.
Untuk
angket, mereka menyarankan agar dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang
menarik dan tidak dengan pertanyaan-pertanyaan yang sensitive atau yang sangat
pribadi. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan untuk identitas, disarankan untuk
ditanyakan pada bagian terakhir.
B.
Wawancara
Wawancara (interview) adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan
secara langsung oleh pewawancara ( pengumpulan data) kepada responden, dan
jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat perekam ( tape
recorder).
Keuntungan wawancara adalah:
1. Wawancara
dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis.
2. Jika
ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya.
3. Wawancara
dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan
pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden. Yang terakhir
ini tidak dapat dilakukan apabila wawancara dilakukan melalui telepon.
Kerugian
wawancara adalah:
1. Wawancara
memerlukan biaya yang sangat besar untuk perjalanan dan uang harian pengumpulan
data.
2. Wawancara
hanya dapat menjangkau jumlah responden yang lebih kecil.
3. Kehadiran
pewawancara mungkin mengganggu responden.
Apabila
jawaban atau tanggapan responden tidak jelas untuk dimasukan kedalam kategori
yang mana dari sejumlah kategori yang sudah disediakan, pewawancara jangan
mencoba menggolongkannya sendiri.
C.
Observasi
Observasi atau pengamatan disini
diartikan lebih sempit, yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan
yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Keuntungan observasi adalah:
1. Data
yang diperoleh adalah data yang segar dalam arti yang dikumpulkan diperoleh
dari subjek pada saat terjadinya tingkah laku.
2. Keabsahan
alat ukur dapat diketahui secara langsung. Tingkah laku yang diharapkan mungkin
akan muncul atau mungkinjuga tidak muncul. Karena tingkah laku dapat dilihat,
maka kita dapat segera mengatakan bahwa yang diukur memang sesuatu yang
dimaksudkan untuk diukur.
Kerugian
observasi adalah:
1. Untuk
memperoleh data yang diharapkan, maka pengamatan harus menunggu dan mengamati
sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi. Jika dana yang tersedia cukup
besar,pengamat dapat menggunakan video perekam (videotape). Inipun harus digunakan untuk merekam sejumlah tingkah
laku lain sampai muncul tingkah laku yang relevan.
2. Beberapa
tingkah laku, seperti tingkah laku kriminal atau yang bersifat pribadi, sukar
atau tidak mungkin diamati bahkan bisa membahayakan jika diamati. Untuk tingkah
laku seperti ini, masih mungkin diperoleh data melalui wawancara. ( Atherton
& Klemmack,1982)
Berdasarkan
keterlibataban pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi
dapat dibedakan menjadi:
1. Observasi
Partisipan (participant observation)
2. Observasi
takpartisipan (nonparticipant
observation)
Berdasarkan
cara pengamatan yang dilakukan, observasi juga dibedakan menjadi dua bagian
yaitu:
1. Observasi
tak berstruktur
2. Observasi
berstruktur
D.
Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan teknik
pengumpulan data tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen
yang ditelitidapat berupa berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi.
Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer, jika dokumen ini ditulis
oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa; dan dokumen sekunder, jika peristiwa dilaporkan kepada oranglain yang
selanjutnya ditulis olehorang ini.
Beberapa keuntungan studi dokumentasi
adalah:
1. Untuk
subjek penelitian yang sukar atau tidak dapat dijangkau seperti para pejabat,
studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian.
2. Takreaktif. Karena
studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang
diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpulan data. Hal
ini berbeda dengan wawancara, observasi, atau bahkan angket yang dapat
mempengaruhi tingkah laku subjek yang diteliti.
3. Analisis longitudinal. Untuk
studi yang bersifat longitudinal, khususnya yang menjangkau jauh ke masa lalu,
maka studi dokumentasi memberikan cara yang terbaik.
4. Besar sampel.
Dengan dokumen-dokumen yang tersedia, teknik ini memungkinkan untuk mengambil
sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil.
(
Bailey, 1982)
Beberapa
kerugian studi dokumentasi adalah:
1. Bias.
Karena dokumen yang dibuat tidak untuk keperluan penelitian, maka data yang
tersedia mingkin bias, seperti cerita yang berlebihan atau ada fakta yang
disembunyikan.
2. Tersedian secara selektif.
Tidak semua dokumen dipelihara untuk dapat dibaca ulang oleh oranglain. Catatan
tentang orang-orang ternama mungkin disimpan dengan baik, tetapi catatan tentang
orang biasa tidak selalu, dan bahkan tidak ada.
3. Tidak lengkap.
Karena tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan penelitian, maka data
yang tersedia mungkin tidak lengkap, dalam arti bahwa data yang diperlukan oleh
penelitian tidak tercatat pada saat penulisan dokumen.
4. Format yang tidak baku.
Sejalan dengan maksud dan tujuan penulisan dokumen yang berbeda dengan tujuan
penelitian, maka formatnya juga dapat bermacam-macam sehingga bisa mempersulit
pengumpulan data. Akibat lebih lanjut adalah sukar memberikan kode pada data.
(Bailey, 1982)
E.
Teknik lain
1.
Analisis isi
Analisis
isi (content analysis) didefinisikan
oleh Artherton dan Klemmack (1982) sebagai studi tentang arti komunikasi
verbal.
Bahan
yang dijadikan sumber data untuk analisis isi tidak hanya bahan pidato, tetapi
juga dapat berupa buku harian, surat catatan kasus, dan semacamnya.
2.
Tes proyeksi
Tes
proyeksi (projective test) ini
didasarkan pada anggapan bahwa apa yang dilakukan subjek dengan bahan tes
mengungkapkan sesuatu tentang subjek tersebut yang bebas dari kesediannya untuk
mengungkapkannya.
BAB IX
TEKNIK PENGUKURAN
A.
Tingkat-tingkat pengukuran
1.
Skala nominal
Skala nominal merupakan
skala pengukuran yang paling rendah tingkatnya karena dengan skala ini objek
penelitian hanya dapat dikelompokan berdasarkan ciri-ciri yang ada pada
kelompok lain.
2.
Skala ordinal
Skala ini lebih tinggi
tingkatannya atau lebih baik dari skala nominal karena selain mempunyai ciri-ciri
yang sama dengan skala nominal, yaitu dapat menggolongkan objek penelitian
dalam golongan-golongan yang berbeda, skala ordinal mempunyai kelebihan
daripada skala nominal, yaitu bahwa golongan-golongan atau klasifikasi dalam
skala ordinal dapat dibedakan tingkatnya.
3.
Skala interval
Skala ini
memiliki ciri yang sama dengan skala ordinal, yaitu dapat membedakan objek
penelitian kedalam golongan-golongan yang berjenjang, kelebihan yang
dimilikinya adalah bahwa skala interval mempunyai unit pengukuran yang sama
sehingga jarak antara satu titik dengan titik yang lain, atau antara satu
golongan dengan golongan yang lain, dpat diketahui.
4.
Skala rasio
Skala rasio ini
merupakan skala yang tertinggi tingkatnya karena selain mempunyai semua ciri
yang dimiliki oleh semua sklala dibawahnya, skala rasio mempunyai titik nol
yang sebenaarnya.
B.
Teknik pengukuran
1.
Skala Likert
Skala ini
disebut skala likert karena pertama kali di kembangkan oleh Rensis Likert.skala
ini disebut juga sebagai method of
summated ratings karena nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan
dijumlahkan sehingga mendapat nilai total.
2.
Skala Thurstone
Skala
ini disebut dengan equal-appearing interval (mempunyai interval yang tampak
sama). Skala ini bukan mencari nilai total seperti dalam skala likert,
melainkan untuk setiap pernyataan diberi nilai skala tertentu yang menungjukan
intensitan pernyataan tersebut.
3.
Skala Guttman
Skala ini diberi
nama demikian karena dikembangkan oleh orang yang bernama Louia Guttman. Skala
ini disebut juga skala komulatif atau
scalogram analysis. Berbeda dengan
skala Likert fdan dan skala Thurstone yang mengandung lebih dari satu dimensi,
skala Guttman merupan skala satu dimensi (unidimensional
scale).
4.
Skala semantic differential
Skala sematic differential pertama kali
digunakan oleh Osgood, Suci dan Tannenbaum untuk mengatur arti objek-objek
psikologis, social, dan/atau fisik.
C.
Validitas alat ukur
Alat ukur yang
dibuat harus dapat mengkur variable yang dimaksudkan untuk diukur, bukan
variable lain.
Terdapat tiga cara
untuk menentukan validitas suatu alat ukur, yaitu:
1.
Validitas isi atau Validitas tampak
Mengenai
validitas ini, ada yang menggunakan istilah validitas
isi (content validity) dan ada pula yang menggunakan valitas tampak (face validity).
2.
Validitas progmatik atau validitas berdasarkan
kriteria
Validitas
pragmatic yang disebut juga sebagai validitas yang berdasarkan kriteria terdiri
atas dua macam. Pertama adalah
validitas prediktif, yaitu suatu alat ukur dikatakan valid jika hasil dari
pengukuran ini sesuai dengan tingkah
laku atau gejala yang diramalkannya. Kedua
adalah validitas pada saat bersamaan (concurrent validity). Validitas ini
digunakan untuk membuat alat ukur baru karena alat ukur yang lama untuk
variable yang sama dianggap terlalu panjang, atau memakan waktu lama untuk
menggunakannya, atau tidak praktis.
3.
Validitas konstruk
Terdapat du
acara untuk menguji validitas konstruk. Pertama, dengan teknik statistic yang
disebut factor analysis. Dengan teknik ini, dapat diungkapkan faktor-faktor
yang mendasari butir-butir yang terdapat didalam skala pengukuran berdasarkan
factor loading-nya. Cara kedua adalah berdasarkan suatu teori tertentu yang
menghubungkan konstruk yang akan diukur dengan konstruk lain yang sudah ada
alat ukurnya.
D.
Reliabilitas alat ukur
Terdapat beberapa cara
untuk menentukan reliabilitas alat ukur yaitu:
1.
Metode pararel
2.
Metode
test-retest (uji ulang)
3.
Metode
split-half (belah dua)
4.
Metode Cronbach
E.
Analisis butir (item analysis)
Reliabilitas
alat ukur dapat ditingkatkan dengan melakukan analisis butir. Analisis butir ii
dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan mencari korelasi
antara nilai setiap butir dengan nilai total yang dikurangi nilai butir yang
bersangkutan.
Cara kedua
adalah dengan discriminating power (daya pembeda atau DP). Dengan cara ini,
instrument yang telah diisi disusun menurut besarnya nilai total.
BAB X
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
A.
Mengedit dan memberi kode
Dalam
pengolahan data, yang pertama kali harus dilakukan adalah melakukan editing.
Ini berarti bahwa semua kuesioner harus diteliti satu persatu tentang
kelengkapan pengisian dan kejelasan penulisannya.
B.
Lembar ringkasan dan tabulasi
Setelah kode-kode dibuat, langkah
selanjutnya adalah melakukan tabulasi, yaitu membuat tabel-tabel sesuai dengan
analisis yang dibutuhkan.lembar rinngkasan ini terdiri atas kolom-kolom dan
baris-baris. Kolom pertama yang terletak paling kiri digunakan untuk nomor urut
atau kode responden. Kolom kedua dan selanjutnya digunakan untuk
variabel-variabel yang terdapat dalam kuesioner. Baris-baris digunakan untuk
setiap responden.
Proses tabulasi ini akan dipermudah dan
sangat dipercepat apabila pengolahan analasis data menggunakan komputer.jika
data sudah dimasukkan dalam bentuk yang sejalan dengan lembaran ringkasan
tersebut di atas, maka tabel apapun yang diperlukan, termasuk tabel-tabel
silang, dapat segera dihasilkan.
C.
Analisis data
Analisis data yang dilakukan disesuaikan
dengan tujuan penelitian. Penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran
cukup menyajikan tabel tunggal dengan jumlah dan persentase untuk setiap
kategori. Pembuatan klasifikasi itu sendiri sudah merupakan analisis pada
tingkat pertama. Untuk analisis lain, seringkali diperlukan tabel silang atau
tabel ganda. Untuk data kuantitatif, misalnya umur dan penghasilan, selain
menyajikan data dalam tabel dengan kelas interval, perlu juga disajikan
statistiknya, seperti mean dan simpangan bakunya. Ini untuk menunjukkan angka
berapa yang menjadi wakil bagi kelompoknya secara keseluruhan, dan bagaimana
variasinya.
BAB XI
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.
Isi laporan
Penulisan laporan penelitian harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) apa yang menjadi masalah penelitian, (2)
bagaimana penelitian dilaksanakan, (3) apa hasil penelitiannya, dan (4) apa
makna dan implikasi penelitian.
Kerangka laporan penelitian dapat mengikuti
sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A. latar belakang
B. masalah penelitian
C. tujuan dan manfaat penelitian
BAB II METODE
PENELITIAN
A. Hipotesis
B. Definisi operasional
C. Metode dan rancangan penelitian
D. Populasi dan sampel
E. Teknik pengumpulan data
F. Analisis data
BAB III HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Data deskriptif
B. Analisis data
C. Pembahasan
BAB IV KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Untuk penulisan sebuah skripsi, tesis, dan
disertasi, perlu ditambah satu bab lagi sebelum metode penelitian, yaitu bab
tentang tinjauan pustaka. Untuk penulisan laporan penelitian dalam suatu
jurnal, sistematikanya mengikuti kerangka sebagai berikut:
Pendahuluan
Metode
Hasil
penelitian
Pembahasan
Kesimpulan
B.
Tata cara penulisan
Cara menulis laporan penelitian perlu mengikuti
suatu aturan yang telah diterima di kalangan ilmuwan.
Cara yang lebih praktis, baik menggunakan mesin
tulis biasa maupun pengolah kata, adalah model yang ditetapkan oleh APA.
Model APA tidak menggunakan catatan kaki seperti
dalam model Turabian, tetapi setiap referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan
tahun penerbitan.
Dengan model APA ini, kunci referensinya adalah pada
daftar pustaka. Oleh karena itu, penunjukkan referensi dalam uraian dan daftar
pustaka harus bersesuaian.
Cara penulisan sumber referensi pada daftar pustaka
membedakan sumber yang berbeda. Suatu bab dari buku yang diedit dicantumkan
secara berbeda dari buku yang ditulis oleh seorang penulis. Berikut ini
disajikan contoh penulisan dalam daftar pustaka untuk sumber dari jurnal, buku,
buku terjemahan, dan bab dari buku yang diedit.
Malo, M., & Dewi Susanto. 1980.
“Survey Wisatawan Asing”. Dalam JurnalPEnelitian
Sosial, 4(8), hlm. 78-118
Endang Purwaningsih. 1982.
“Pemenuhan Kebutuhan Perumahan di Perumnas Klader”. Dalam Mulyanto Sumardi
& Hans-Dieter Evers (Ed.), Kemiskinan
dan Kebutuhan Pokok, hlm. 219-292. Jakarta: Rajawali.
