Sabtu, 21 Oktober 2017

Resume Buku Metode Penelitian Sosial

RESUME
METODE PENELITIAN SOSIAL
karangan: Dr. Irawan Soehartono
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Sosial
Dosen: Dr. Ai Siti Farida, M. Si.



Disusun oleh :
Novi Fadia
NIM 1168010203
                                     

ADMINISTRASI PUBLIK/ III/E
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2017



BAB I
PENELITIAN DAN ILMU
Penelitian dan ilmu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Penelitian merupakan alat bagi ilmu untuk dapat mengembangkannya. Dengan penelitian, kemajuan ilmu dapat terus ditingkatkan agar dapat menjelaskan gejala-gejala, sermasuk gejala-gejala social.
A.    Arti penelitian
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata penelitian diartikan sebagai pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan; sedangkan kata penyelidikan diartikan sebagai pemeriksaan atau pengusutan; dan kata menyelidiki berarti memeriksa dengan teliti, mengusut dengan cermat atau menelaah (mempelajari) dengan sungguh-sungguh (Poerwadarminta, 1976).
Kata penelitian atau penyelidikan tersebut digunakan sebagai padanan kata research dalam Bahasa Inggris. Kata research ini berasal dari kata Latin reserare yang berarti mengungkapkan atau membuka (Goldstein, 1963).
Riset atau penelitian merupakan kegiatan yang sistematik yang dimaksudkan untuk menambah pengetahuan baru atas pengetahuan yang sudah ada, dengan cara yang dapat dikomunikasikan dan dinilai kembali (Macdonald, 1960). Jadi, penelitian merupakan upaya untuk menambahkan dan memperluas pengetahuan, yang selain untuk menghasilkan pengetahuan yang baru sama sekali yaitu yang sebelumnya belum ada atau belum dikenal, juga termasuk pengumpulan keterangan baru yang bersifat memperkuat teori-teori yang siudah ada, atau juga bahkan yang menyangkal teori-teori yang sudah ada.
Agar hasil penelitian yang ditemukan dapat menghasilkan penelitian yang teruji, maka setiap penelitian harus dapat diulangi kembali agar dapatditentukan kebenarannya.
B.     Pentingnya mempelajari metode penelitian
Media massa, khususnya media massa cetak seperti surat kabar, sering memberitakan kondisi suatu masyarakat atau juga sering melaporkan hasil suatu penelitian, baik laporan penelitian biasa maupun ringkasan desertasi untuk mendapatkan gelar doktor pada suatu perguruan tinggi walalupun hanya secara singkat. Bagi sebagian besar orang, apa yang diperoleh sebagai hasil penelitian mungkin akan diterima begitu saja sebagai kebenaran. Akan tetapi, bagi seseorang yang kritis, apa yang dipaparkan sebagai hasil pengamatan atau penelitian tersebut tidak akan langsung diterima begitu saja sebelum cara atau prosedur dalam mendapatkan temuan tadi dikaji dengan seksama. Untuk dapat melakukan pengkajian seperti ini, hanya memungkinkan jika seseorang memahami prinsip-prinsip yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian, metode penelitian perlu dipelajari jikakita ingin bisa berfikir kritis.
C.    Cara pendekatan kepada pengetahuan
Cara pertama disebut metode rasionalistik yang sering dipandang sebagai metode yang pertama muncul. Berdasarkan metode ini, pengetahuan dikatakan berasal dari proses pemikiran. Pendekatan ini memandang bahwa indera manusia mudah keliru dengan menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat melihat atau mendengar dengan sama baiknya.
Cara kedua disebut metode empirik. Metode ini menganggap bahwa semua pengetahuan berasal dari indera-indera dan menujukkan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi apabila kita mendasarkannya pada akal. Kebenaran ilmu pengetahuan akan didapat apabila sesuai dengan kenyataan. Ini berarti bahwa pengalaman empirik merupakan dasar bagi ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan modern memang menerima prinsip pendekatan yang kedua, yaitu bahwa kebenaran ilmu pengetahuan haruslah sesuai dengan kenyataan, yang berarti harus didasrkan pada pengalaman empirik. Akan tetapi, pengalaman empirik saja tidak cukup karena kenyataannya empirik tidak berbicara dengan sedirinya. Kenyataan empirik harus dihubung-hubungkan secara berarti. Untuk itu, diperlukan kerangka berfikir yang rasional. Dengan demikian, ilmu pengetahuan modern menggunakan metode deduktif maupun metode induktif secara bersama-sama sehingga saling melengkapi.
D.    Unsur-unsur ilmu
Suatu bangunan didirikan atas dasar fondasi, tiang, dinding dan sebagainya. Demikian pula ilmu pengetahuan didasarkan atas fondasi yang berupa teori-teori dan hipotesis-hipotesis. Teori dan hipotesis pada hakikatnya merupakan proposisi (pernyataan), dan proposisis ini menghubungkan variabel-variabel.
Konsep pada hakikatnya merupakan istilah, yaitu satu kata atau lebih yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.
Tingkat abstraksi konsep tidak sama. Ada konsep yang mempunyai tingkat abstraksi rendah, karena apa yang digambarkan oleh konsep tersebut dapat secara langsung ditemukan melalui panca indera kita.
Suatu konsep mungkin memiliki sua nilai atau lebih pada suatu kontinum. Konsep yang demikian disebut variabel. Nilai suatu variabel dapat dinyatakan dengan angka atau dengan kata-kata. Contoh variabel yang nilainya dinyatakan dengan angka adalah umur dan kepadatan penduduk.
Konsep yang hanya memiliki satu nilai bukan merupaka variabel. Contoh konsep semacam ini adalah “merah”. Akan tetapi, “kemerah-merahan” merupakan variabel karena mempunyai lebih dari satu nilai, misalnya “merah muda” dan “merah tua”.
Berdasarkan hubungannya, variabel dapat dibedakan menjadi variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab bagi variabel lain. Variabel terikat adalah yang dipengaruhi atau dibebaskan dengan variabel lain.
Berdasarkan dapat-tidaknya dimanipulasi, variabel dapat dibedakan menjadi variabel aktif dan variabel atribut (Kerlinger, 1986). Saslow (1982) menyebutnya sebagai variabel nonsubjek dan variabel subjek. Variabel aktif atau variabel nonsubjek adalah variabel yang dapat dimanipulasi, artinya peneliti dapat melakukn sesuatu yang menyangkut variabel tersebut pada sekelompok orang dan melakukan hal lain pada kelompok lain, misalnya pemberian bantuan dengan konseling dan pemberian bantuan tanpa konseling.
Proposisi adalah pernyataan tentang suatu konsep atau lebih. Ihipotesis adalah proposisi yang masih bersifat sementara dan masih harus diuji kebenarannya.
Penelitian dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang tidak akan terjawab tanpa melakukan penelitian karena memerlukan data empirik.
Teori merupakanproposisi yang memberikan penjelasan atas suatu gejala. Teori memberi kan jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana. Biasanya, walaupun tidak selalu, teori merupakan rumusan yang menyatakan hubungan sebab-akibat anatar dua variabel atau lebih.
Fakta adalah pernyataan yang secara empirik benar. Jadi, fakta adalah pernyataan yang sesuai dengan kenyataan. Sedangkan data adalah hasil penelitian atau pengamatan yang menjadi dasar untuk menarik kesimpulan lebih lanjut.
E.     Sikap ilmiah
Sikap yang harus dimiliki oleh setiap sarjana atau ilmuwan tersebut disebut sebagai sikap ilmiah. Sikap ilmiah ini adalah sebagai berikut (Harsojo, 1972):
1.      Sikap objektif, adalah keadaan objek, masalah, atau gejala sebagaimana adanya merupakan hal yang palig penting.
2.      Sikap relatif, merupakan sikap ilmiah kedua yang perlu ditegakkan.
3.      Sikap skeptik, berarti bahwa seorang sarjana atau ilmuwan harus tetap bersikap ragu-ragu atau tidak mudah percaya pada pernyataan-pernyataan tersebut belum didukung oleh data yang cukup kuat.
4.      Kesabaran intelektual, berarti bahwa seorang ilmuwan tidak mudah menyerah dan kuat menahan tekana untuk menyatakan suatu pendirian ilmiah serta tetap berusaha mendapatkan data dan fakta yang diperlukan untuk mendukung pernyataan atau pendirian tadi.
5.      Kesederhanaan, berarti bahwa cara berfikir, cara menyatakan pendapat, atau cara pengujian dilakukan dengan cara sederhana.
6.      Sikap tidak memihak kepada etika, berarti bahwa tidak bermaksud membuat penilaian baik atau buruk, tetapi mempunyai tugas untuk membuat pernyataan tentang mana yang benar dan mana yang salah secara empirik.
F.     Metode dan rancangan penelitian
Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan.
Metode penelitian dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.      Metode historik digunakan jika data yang diperlukan terutama berkaitan dengan masa lalu, sehingga teknik pengumpulan data yang digunakan terutama adalah studi dokumenter atau mungkin juga studi artifak, walaupun wawancara juga dapat digunakan apabila pelaku sejarah yang bersangkutan masih hidup.
2.      Metode survei merupakan metode yang memperoleh data yang ada pada saat penelitian yang dilakukan.
3.      Metode eksperimen digunakan jika data yang diinginkan sengaja ditimbulkan atau didorong munculnya.
Rancangan atau desain (design) penelitian merupakan rencana atau pola ayang akan diikuti dalam pelaksanaan penelitian, termasuk alisisnya.




BAB II
PENELITIAN PEKERJAAN SOSIAL
Dalam profesi pekerjaan social, dikenal adanya penelitian pekerjaan social (social work research) atau kadang-kadang disebut juga sebagai penelitian kesejahteraan social. Ini sejalan dengan ilmu atau profesi lain, seperti misalnya profesi pendidikan yang mempunyai metode penelitian yang disebut penelitian pendidikan.
A.    Komponen pekerjaan social
Pekerjaan social sebagai suatu profesi – walaupun masih muda, khususnya di Indonesia – mempunyai pengertian yang berbeda dengan pekerjaan social menurut pengertian orang awam. Pekerjaan social menurut orangawam adalah pertolongan atau bantuan yangdiberikan kepada oranglain yang hanya berdasarkan padarasa kasih sayang, belas kasihan, kebaikan hati, kewajibn menuruti ajaran agama, atau pengabdian kepada sesame manusia saja.
Pekerjan social sebagai haruslah didasari oleh ilmu pengetahuan yang dipelajari dan disampaikan oleh suatu lembaga pendidikan tinggi.
Pekerjaan social sebagai profesi dikatakan mempunyai tiga komponen yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Komponen pekerjaan social – jika belum dikaitkan dengan orangnya, yaitu apa yang akan dipelajari dan diajarkan disuatu lembaga pendidikan terdiri atas:
1.      Nilai-nilai
2.      Pengetahuan
3.      Sekumpulan alat intervensi (interventive repertoire)
(Bartlett, 1970)
Nilai-nilai professional ini masih dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu : komponen tentang orang yang dikehendaki/disenangi, hasil (outcome) dari orang yang dikehendaki/disenangi, dan tata cara dalam menghadapi orang yang dikehendaki/disenangi (Levy,1973).
B.     Penelitian pekerjaan social dan penelitian social
Penelitian pekerjaan social semula hanya dimulai dengan masalah-masalah praktis dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan program-program pekerjaan social. Jadi, hasilnya langsung dapat digunakan untuk keperluan-keperluan praktis, yaitu untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia. Dengan demikian, penelitian pekerjaan social seperti ini tergolong ke dalam penelitian terapan (applied research). Akan tetapi, denganperkembangan praktik pekerjaan social, ternyata upaya para peneliti pekerjaan social tidak hanya puas dan terbatas pada hal-hal yang praktis dan yang langsung dapat digunakan.
Penelitian pekerjaan social bagian atau pengkhususan dari penelitian social, yaitu penelitian yang berfungsi melayani pengembangan ilmu-ilmu social.
C.    Topik-topik penelitian pekerjaan social
Setelah menghaji beberapa literature, Friedlander (1977) mengemukakan jenis-jenis penelitian yang telah dilakukan sebagai berikut:
1.      Studi yangmengidentifikasi dan mengukur factor-faktor yang menyebabkan masalah social dan yang memerlukan pelayanan social.
2.      Studi tentang sejarah lembaga-lembaga amal,perundang-undangan kesejahteraan social, program-program kesejahteraan social, dan konsep-konsep pekerjaan social.
3.      Studi tentang ekspektasi, persepsi, dan evaluasi situasi pekerja-pekerja social.
4.      Studi tentang maksud, tujuan, dan citra diri pekerja social.
5.      Studi tentang hubungan antara ekspektasi, maksud, dan tindakan-tindakan pekerja social.
6.      Studi tentang isi proses pekerjaan social.
7.      Studi yang menguji memadai-tidaknya pelayanan social yang tersedia dihubungkan dengan kebutuhan-kebutuhan individu, kelompok, dan masyarakat.
8.      Studi yang menguji, mengukur, dan mengevaluasi akibat pelaksanaan pekerjaan social, serta meneliti kompetensi yang diperlukan untik praktik pekerjaan social.
9.      Studi tentang ekspektasi, tujuan, dan presepsi klien, dan evaluasi situasi.
Selanjutnya dengan menggunakan tipe-tipe penelitian Philip Klein, Friedlander dan Apte (1982) mengelompokan penelitian kesejahteraan social menjadi sebagai berikut:
1.      Untuk mengadakan, mengidentifikasi, dan mengukur kebutuhan-kebutuhan akan pelayanan social.
2.      Untuk mengukur pelayanan yang diberikan.
3.      Untuk menguji, mengukur, dan mengevaluasi hasil kegiatan pekerjaan social.
4.      Untuk menguji hasil teknik-teknik pekerjaaan social tertentu.
5.      Untuk mengembangkan metodologi penelitian pekerjaan social.
Dalam setiap kelompok terdapat berbagai macam topic atau judul. Sebagai contoh, dapat dikemukakan beberapa topic tersebut.
1.      Profesi pekerjaan social
2.      Teori dan praktik
3.      Bidang pelayanan’
4.      Isu-isu social/masalah sosial
D.    Penelitian pekerjaan social dan praktik pekerjaan social
Penelitian pekerjaan social dapat memberikan standard an metode ilmiah yang dapat digunakan oleh pekerja social dalam melaksanakan praktik pekerjaan social, karena antara penelitian pekerjaan social dan praktik pekerjaan social terdapat persamaan-persamaan tertentu.
Sehubungan dnegn kegiatan-kegiatan yang dilakukan, persamaannya adalah bahwa penelitian melakukan kegiatan yang disebut pwngumpulan data; sementara itu, dalam praktik pekerjaan social juga ada kegiatan pengumpulan data yang biasa dikenal dengan istilah assessment.
E.     Proses penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan karena didorong oleh rasa ketidakpastian atau ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Meskipun demikian, pada prinsipnya, langkah-langkah tersebut meliputi hal-hal berikut:
1.      Identifikasi dan perumusan masalah
2.      Penentuan unit dan sumber data
3.      Pengumpulan data
4.      Pengolahan dan analisis data
5.      Kesimpulan dan penyajian laporan




BAB III
PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah adalah hal yang sangat penting karena langkah ini akan menentukan kemana suatu penelitian diarahkan. Perumusan masalah pada hakikatnya merupakan perumusan pertanyaan yang jawabannya akan dicari melalui penelitian.
A.    Sumber masalah
Masalah yang akan diteliti pertama-tama tentu saja diwarnai atau dibatasi oleh kerangka acuan seorang peneliti.
Dalam menemukan suatu masalah yang akan diteliti, yang paling mungkin dilakuakan adalah membaca literature. Membaca topik yang menarik perhatian dan kemudian mengkajinya akan snagat membantu untuk dapat mennemukan permasalahan yang perlu dan dapat diteliti. Sumber yang sangat penting dalam program membaca dalam rangka menemukan suatu masalah penelitian adalah jurnal. Jurnal sering membuat artikel yang membahas aspek-aspek tertentu dari suatu ilmu pengetahuan.
B.     Proses perumusan masalah
Tahap pertama dalam perumusan masalah adalah adanya kebutuhan yang dirasakan (left need).
Langkah selanjutnya adalah memeriksa masalah yang akan diteliti dalam hubungannya dengan pengetahuan yang telah tersedia, dan penelitian apa saja yang pernah dilakukan yang menyangkut variable yang akan diteliti.
Pertimbangan lainyang tidak boleh diabaikan dalam memilih suatu masalah penelitian adalah kegunaan atau manfaat hasil penelitian tersebut.
Dalam hubungan dengan perumusan masalah, Kerlinger (1986) mengemukakan tiga kriteria, yaitu:
1.      Masalah harus menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih.
2.      Masalah harus dinyatakan secara jelas tanpa meragukan dalam bentuk pertanyaan.
3.      Masalah harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat diuji secara empieik.
C.    Pertanyaan penelitian
Pertanyaan-pertanyaan penelitian dapat digolongkan menjadi empat macam.
1.      Pertanyaan yang akan dijawab oleh suatu penelitian dapat berupa pertanyaan tentang karakteristik suatu populasi.
2.      Pertanyaan penelitian lain dapat berkaitan dengan frekuensi suatu gejala.
3.      Suatu penelitian juga dapat mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara variable-variable, sebagaimana disyaratkan oleh Karlinger (1986).
4.      Pertanyaan yang paling penting untuk dijawab oelh suatu penelitian tidak hanya ingin mengetahui hubungan antara variable-variable tetapi lebih jauh lagi, yaitu menyatakan hubungan sebab-akibat antara dua variable atau lebih.
D.    Perumusan hipotesis
Hipotesis adalah suatu pernyataan yang masih harus diuji kebenarennya secara empiric.
Sejalan dengan pertanyaan penelitian, hipotesisi juga dapat dirumuskan dalam beberapa cara:
1.      Hipotesis yang menyatakan bahwa sesuatu mempunyai ciri tertentu.
2.      Hipotesis yang menyaatakan frekuensi terjadinya sesuatu.
3.      Hipotesis yang menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih.
4.      Hipotesis yang tertinggi tingkatannya adalah hipotesis yang menyatakan hubungan sebab-akibat antara dua varaiabel atau lebih.
E.     Definisi formal dan definisi operasional
Definisi formal menjelaskan konsep dengan kata-kata atau istilah lain atau sinonimnya yang dianggap sudah dipahami oleh pembaca. Definisi seperti ini tampak seperti definisi yang tercantum dalam kamus.
Definisi formal belum cukup untk dapat dijadikan dasar dalam melakukan penelitian sehingga memerlukan definisi lain, yaitu definisi operasional. Definisi operasional menyatakan bagaimana operasi atau kegiatan yang harus dilakuakan untuk memperoleh data atau indicator yang menunjukkan konsep dimaksud. Definisi inilah yang diperlukan dalam penelitian karena definisi ini menghubungkan konsep atau konstruk yang doteliti dengan gejala empiric.
F.     Unit analisis
Dalam perumusan masalah, harus sudah terbayang pula apa yang menjadi unit analisis penelitian. Unit analisis ini menunjukkan siapa atau apa yang mempunyai karakteristik yang akan diteliti.





BAB IV
PENELITIAN EKSPLORATORI DAN PENELITIAN DESKRIPTIF
Tujuan penelitian ddapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu:
1.      Untuk lebih mengenal atau memperoleh pandangan baru tentang suatu gejala, yang seringkali untuk dapat merumuskan masalah penelitian dengan lebih tepat atau untuk dapat merumuskan hipotesis;
2.      Untuk menggambarkan dengan lebih teliti ciri-ciri individu, situasi, atau kelompok;
3.      Untuk menentukan frekuensi terjadinya sesuatu atau hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lain;
4.      Untuk menguji hipotesis yang menyatakan hubungan seba-akibat antara dua variable atau lebih (Selltiz, Wringhtsman,& Cook, 1976).
Penelitian yang mempunyai tujuan pertama disebut penelitian eksploratori (penjajagan)atau penelitian formulatif.
Penelitian yang mempunyai tujuan kedua dan ketiga disebut penelitian deskriptif.
A.    Penelitian eksploratori
Penelitian eksploratori ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1.      Survei literature, penelitian ini dilakukan dengan mempelajari bahan tertulis, khususnya artikel-artikel yang tercantum dalam jurnal atau majalah ilmiah.
2.      Survei pengalaman, yaitu mencari informasi dari orang-orang yang ahli atau berpengalaman dalam suatu bidang permasalahan tertentu atau dari orang yang berpengalaman atau sudah lama berkecimpung dalam permaslahan tersebut.
3.      Studi tentang kasus tertentu, penelitian eksploratori dapat juga dilakuakan dengan mempelajari catatan-catatan kasusu (case record) mengenai suatu permasalahan.
B.     Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif seperti ini menggunakan metode survei (Atherton & Klemmack, 1982). Penelitian deskriptif ini meliputi:
1.      Penelitian yang menggambarkan karakteristik suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu.
2.      Penelitian yang menggambarkan penggunaan fasilitas masyarakat.
3.      Penelitian yang memperkirakan proporsi orang yang mempunyai pendapat, sikap, atau bertingkah laku tertentu.
4.      Penelitian yang berusaha untuk melakukan semacam ramalan.
5.      Penelitian deskriptif lain adalah penelitian yang mencari hubungan antara dua variable atau lebih.



BAB V
PENELITIAN PENJELASAN
A.    Rancangan-rancangan praeksperimen
Untuk melakukan penelitian penjelasan, yaitu penelitian yang menguji hubungan sebab akibat, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai rancangan yang akan dibahas berikut ini :
1.      Studi kasus satu tembakan (one shot case study)
Rancangan ini terdiri atas satu kelompok subjek penelitian yang diberi perlakuan (variabel bebas) yang diteliti. Berikut gambar yang menunjukan rancangan ini:
X                                 O
2.      Rancangan sebelum-sesudah dengan satu kelompok (one group pretest-posttest design)
Dalam rancangan ini, pengamatan atau pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah variabel bebas atau perlakuan dikenakan pada kelompok subjek yang diteliti. Berikut gambar yang memperlihatkan rancangan ini :
O1                   X                     O2
     Rancangan ini juga mempunya kelemahan karena terdapat enam variabel luar yang tidak terkontrol yang merupakan ancaman terhadap validitas intern. Adapun ancamannya adalah :
1.      Sejarah
2.      Kematangan
3.      Pengukuran
4.      Alat ukur
5.      Regresi statistik
6.      Berkurangnya subjek (mortality)
7.      Rancangan perbandingan kelompok statik
3.      Rancangan perbandingan kelompok static (static group comparison dsign)
Rencana ini menggunakan dua kelompok. Rencana ini digambarkan dalam diagram berikut:
X                               O1
                                             O2
B.     Rancangan-rancangan eksperimen yang benar
     Rancangan-rancangan eksperimen yang sebenarnya dapat mengontrol variabel-variabel luar tersebut. Peneliti dapat sepenuhnya melakukan kontrol atas pelaksanaan eksperimen, apabila:
·         Setiap subjek penelitian dapat ditempatkan secara acak dalam salah satu kelompok
·         Peneliti dapat menentukan bilamana perlakuan atau variabel bebas akan diberikan
·         Peneliti dapat menentukan bilamana pengamatan atau pengukuran akan dilakukan
1.      Rancangan sebelum-sesudah dengan kelompok control (pretest-posttest control group design)
     Rancangan ini menggunakan dua kelompk subjek yang dibandingkan berdasarkan pengamatan atau pengukuran atas variabel terikat. Kedua kelompok diamati atadu diukur dua kali, yaitu sebelum perlakuan atau sebelum diberikannya variabel bebas dan sesudah diberikannya perlakuan/variabel bebas. Berikut bagan dari rancangan sebelum sesudah dengan kelompok kontrol:
R         O1       X         O2
R         O3                   O2
2.      Rancangan sesudah saja dengan kelompok control (pretest-only control group design)
     Rancangan ini sama dengan rancangan eksperien yang pertama, kecuali jika pengukuran sebelum perlakuan tidak dilakukan pada kedua kelompok. Berikut bagam rancangan ini :
R         X         O1
R                     O2
3.      Rancangan empat-kelompok Solomon (Solomon four-group design)
R               O1       X         O2
R               O3                   O4
R                           X         O5
R                                       O6
Pada bagan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa:
1.      Subjek penelitian dibagi ke dalam empat kelompok secara acak
2.      Dua kelompok pertama mendapat pengukuran sebelum perlakuan, dan dua kelompok lainnya tidak
3.      Kelompok pertama dan ketiga mendapat perlakuan atau variabel bebas dan dua kelompok lainnya tidak
4.      Kepada semua kelompok dilakukanpengukuran sesudah perlakuan
5.      Hanya satu dari kelompok kontrol mendapat pengukuran sebelum perlakuan
4.      Sumber-sumber vliditas ekstern (external invadity)
     Terdapat dua macam validitas ekstern, yaitu validitas populasi yang berarti bahwa hasil-hasil eksperimen dapat digeneralisasi kepada subjek lain, dan validitas ekologi yangh berarti bahwa hasil-hasil eksperimen dapat digeneralisasi kepada tempat atau kondisi lingkungan lain.
C.    Rancangan-rancangan eksperimen kuasi
     Rancangan-rancangan eksperimen kuasi berarti rancangan-rancangan seperti, atau menyerupai rancangan eksperimen, tetapi tentu saja yang tidak sama persis dengan rancangan-rancangan eksperimen sebenarnya.
1.      Rancangan dengan kelompok control yang tidak sama (nonequivalent control group design)
     Rancangan ini menggunakan dua kelompok yang membandingkan variabel terikat antara sebelum dan sesudah perlakuan.rancangan ini hampir sama dengan rancangan sebelum-sesudah dengan kelompok kontrol. Berikut bagan rancangan ini:
O                     X                     O
O                                             O
2.      Rancangan sebelum-sesudah dengan sampel terpisah (separate-sample pretest-posttest design)
     Rancangan ini digunakan apabila peneliti tidak dapat memberikan perlakuan yang berbedakepada dua kelompok yang dibagi secara acak. Kentrol dilakukan dengan membagi kelompok secara acak, dan satu kelompok diamati atau diukur sebelum perlakuan dan kelompok satunya diukur setelah perlakuan. Berikut bagai rancangan ini :
           R                O                 X
           R                                    X              O
3.      Rancangan-rncangan rangkaian waktu (time-series design)
     Dalam rancangan ini, dilakukan pengamatan atau pengukuran beberapa kali sebelum dan beberapa kali sesudah perlakuan atau variabel bebas. Rancangan ini dapat menggunakan satu kelompom saja, atau dapat menggunakan kelompok kontrol dengan beberapa variasi.
     Bagan rancangan dengan satu kelompok adalah:
O1       O2       O3       O4       O5       O6       O7       O8




BAB VI
PENELITIAN SURVEI
Kata survey terdiri atas susku kata sur  yang emrupakan turunan kata Latin super yang berarti diatas atau melampaui. Sedangkan suku kata vey berasal dari kata kerja Latin videre yang berarti melihat. Jadi, kata survey berarti melihat diatas atau melampaui (Laedy, 1980).
Penelitian survei adalah penelitian pengamatan yang berskala besar yang dilakukan pada kelompok-kelompok manusia (Saslow, 1982).
A.    Tujuan survei
Survei dapat dilakuakan dengan tujuan semata-mata untuk memberikan gambaran tentang sesuatu. Survei semacam ini disebut survei deskriptif. Survei inilah yang dilakukan oleh Charles Booth di Inggris (Easthope, 1974).
Tujuan lain dari survei aalah untuk melakukan analisis, yang disebut sebagai metode survei analitik. Data dalam survei analitik biasanya merupakan data kuantitatif dan analisisnya menggunakan teknik statistic yang sesuai. Tujuan survei ini adalah untuk menarik kesimpulan guna mendapat arti yang lebih jauh yang tersembunyi dibalik data.
B.     Jenis-jenis survei
Survei biasanya dilakukan pada sebagian dari populasi atau sampel sehingga biasa disebut sample survey.
Survei yang mengajukan pertanyaan kepada responden tentang suatu topik pendapat umum, misalnya sikap terhadap anak jalanan atau sikap terhadap pemulung, disebut public opinion poll. Cross-sectional survey adalah survei yang membandingkan dua kelompok orang atau lebih untuk melihat perbedaaan yang da apada kelompok-kelompok tersebut.
Survei yang akan melihat perubahan atau perkembangan yang terjadi dalam perjalana waktu disebut survei longitudinal.




BAB VII
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
A.    Populasi dan sampel
     Jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan diteliti, disebut populasi atau universe. Secara ideal, kita sebaiknya meneliti seluruh anggota populasi. Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya. Penelitian pada sampel hanya merupakan pendekatan pada populasinya.
B.     Syarat sampel yang baik
     Suatu sampel dikatakan representatif apabila ciri-ciri sampel yang berkaitan dengan tujuan penelitian sama atau hampir sama dengan ciri-ciri populasinya. Suatu sampel yang baik juga harus memenuhi syarat bahwa ukuran atau besarnya memadai untuk dapat meyakinkan kestabilan ciri-cirinya. Dengan pendekatan statistik, kita dapat menentukan besarnya suatu sampel jika kita dapat memperkirakan besarnya simpangan baku (standard deviation) populasi dan kita menetapkan kesalahan maksimum yang dapat kita terima dalam menaksir rata-rata populasi.
C.    Teknik sampling
     Sebelum membahas cara-cara pengambilan sampel, terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami terlebih dahulu. Setiap satuan dari populasi yang merupakan sasaran akhir pengambilan sampel disebut sebagai unsur sampling (sampling element). Suatu unit samplimg dapat berupa unsur sampling tunggal atau suatu kumpulan unsur. Suatu kerangka sampling (sampling frame) adalah daftar lengkap semua unit tempat mengambil sampel (Bailey, 1982). Cara pengambilan sampel atau teknik sampling secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua yaitu probability sampling dan nonprobability sampling.
1.      Probability sampling (pengambilan sampel berdasarkan peluang)
     Dalam suatu probability sampling, cara pengambilannya dilakukan secara random atau acak.
a.       Random sampling (pengambilan samoel secara acak), prosedur pengambilan sampel secara random ini dapat dilakukan dengan undian, yaitu dengan membuat potongan-potongan kertas kecil yang masing-masing diberi nomor sesuai dengan nomor pada kerangka sampling.
b.      Systematic random sampling (pengambilan sampel secara acak sistematik), cara ini dilakukan dengan menggunakan interval tertentu, yaitu jika fraksi samplingnya sebesar 1/k, maka setiap unsur sampling yang ke-k diambil menjadi anggota sampel.
c.       Stratified random sampling (pengambilan sampel secara acak berlapis), cara pengambilan sampelnya dilakukan dari setiap lapisan secara acak.
d.      Cluster random sampling (pengambilan sampel secara acak berumpun), dalam teknik sampling ini yang menjadi unit sampling dalam kerangka sampling adalah rumpun-rumpun, bukan unsur-unsur sampling itu sendiri. Oleh karena itu, dengan teknik sampling ini, akan dilakukan pengambilan sampel lebih dari satu tahap yang disebut multi-stage random sampling.
2.      Nonprobability sampling (pengambilan sampel tidak berdasarkan peluang)
     Dalam nonprobability sampling, kemungkinan atau peluang seseorang untuk terpilih menjadi anggota sampel tidak diketahui.
a.       Accidental sampling (pengambilan sampel secara kebetulan)
b.      Quota sampling (pengambilan sampel berdasarkan jumlah)
c.       Purposive sampling (pengambilan sampel berdasarkan tujuan)
d.      Snowball sampling (pengambilan sampel seperti bola salju)



BAB VIII
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
A.    Angket
Angket (self-administered questionnaire) adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan data pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.
Keuntungan teknik angket adalah:
1.      Angket dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirimkan melalui pos.
2.      Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relatif murah.
3.      Angket tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri sesuai dengan kesediaan waktunya.
Kerugian teknik angket adalah:
1.      Jika angket dikirimkan melalui pos, maka persentase yang dikembalikan relatif rendah.
2.      Angket tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa membaca dan menulis.
3.      Pertanyaan-pertanyaan dalam angket dapat ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat penjelasan.
Untuk angket, mereka menyarankan agar dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan tidak dengan pertanyaan-pertanyaan yang sensitive atau yang sangat pribadi. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan untuk identitas, disarankan untuk ditanyakan pada bagian terakhir.
B.     Wawancara
Wawancara (interview) adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara ( pengumpulan data) kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat perekam ( tape recorder).
Keuntungan wawancara adalah:
1.      Wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis.
2.      Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya.
3.      Wawancara dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden. Yang terakhir ini tidak dapat dilakukan apabila wawancara dilakukan melalui telepon.
Kerugian wawancara adalah:
1.      Wawancara memerlukan biaya yang sangat besar untuk perjalanan dan uang harian pengumpulan data.
2.      Wawancara hanya dapat menjangkau jumlah responden yang lebih kecil.
3.      Kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden.
Apabila jawaban atau tanggapan responden tidak jelas untuk dimasukan kedalam kategori yang mana dari sejumlah kategori yang sudah disediakan, pewawancara jangan mencoba menggolongkannya sendiri.
C.    Observasi
Observasi atau pengamatan disini diartikan lebih sempit, yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Keuntungan observasi adalah:
1.      Data yang diperoleh adalah data yang segar dalam arti yang dikumpulkan diperoleh dari subjek pada saat terjadinya tingkah laku.
2.      Keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung. Tingkah laku yang diharapkan mungkin akan muncul atau mungkinjuga tidak muncul. Karena tingkah laku dapat dilihat, maka kita dapat segera mengatakan bahwa yang diukur memang sesuatu yang dimaksudkan untuk diukur.
Kerugian observasi adalah:
1.      Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka pengamatan harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi. Jika dana yang tersedia cukup besar,pengamat dapat menggunakan video perekam (videotape). Inipun harus digunakan untuk merekam sejumlah tingkah laku lain sampai muncul tingkah laku yang relevan.
2.      Beberapa tingkah laku, seperti tingkah laku kriminal atau yang bersifat pribadi, sukar atau tidak mungkin diamati bahkan bisa membahayakan jika diamati. Untuk tingkah laku seperti ini, masih mungkin diperoleh data melalui wawancara. ( Atherton & Klemmack,1982)
Berdasarkan keterlibataban pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi:
1.      Observasi Partisipan (participant observation)
2.      Observasi takpartisipan (nonparticipant observation)
Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi juga dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
1.      Observasi tak berstruktur
2.      Observasi berstruktur
D.    Studi dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang ditelitidapat berupa berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi.
Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer, jika dokumen ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa; dan dokumen sekunder, jika peristiwa dilaporkan kepada oranglain yang selanjutnya ditulis olehorang ini.
      Beberapa keuntungan studi dokumentasi adalah:
1.      Untuk subjek penelitian yang sukar atau tidak dapat dijangkau seperti para pejabat, studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian.
2.      Takreaktif. Karena studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpulan data. Hal ini berbeda dengan wawancara, observasi, atau bahkan angket yang dapat mempengaruhi tingkah laku subjek yang diteliti.
3.      Analisis longitudinal. Untuk studi yang bersifat longitudinal, khususnya yang menjangkau jauh ke masa lalu, maka studi dokumentasi memberikan cara yang terbaik.
4.      Besar sampel. Dengan dokumen-dokumen yang tersedia, teknik ini memungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar karena biaya yang diperlukan relatif kecil.
( Bailey, 1982)
Beberapa kerugian studi dokumentasi adalah:
1.      Bias. Karena dokumen yang dibuat tidak untuk keperluan penelitian, maka data yang tersedia mingkin bias, seperti cerita yang berlebihan atau ada fakta yang disembunyikan.
2.      Tersedian secara selektif. Tidak semua dokumen dipelihara untuk dapat dibaca ulang oleh oranglain. Catatan tentang orang-orang ternama mungkin disimpan dengan baik, tetapi catatan tentang orang biasa tidak selalu, dan bahkan tidak ada.
3.      Tidak lengkap. Karena tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan penelitian, maka data yang tersedia mungkin tidak lengkap, dalam arti bahwa data yang diperlukan oleh penelitian tidak tercatat pada saat penulisan dokumen.
4.      Format yang tidak baku. Sejalan dengan maksud dan tujuan penulisan dokumen yang berbeda dengan tujuan penelitian, maka formatnya juga dapat bermacam-macam sehingga bisa mempersulit pengumpulan data. Akibat lebih lanjut adalah sukar memberikan kode pada data.
(Bailey, 1982)
E.     Teknik lain
1.      Analisis isi
Analisis isi (content analysis) didefinisikan oleh Artherton dan Klemmack (1982) sebagai studi tentang arti komunikasi verbal.
Bahan yang dijadikan sumber data untuk analisis isi tidak hanya bahan pidato, tetapi juga dapat berupa buku harian, surat catatan kasus, dan semacamnya.
2.      Tes proyeksi
Tes proyeksi (projective test) ini didasarkan pada anggapan bahwa apa yang dilakukan subjek dengan bahan tes mengungkapkan sesuatu tentang subjek tersebut yang bebas dari kesediannya untuk mengungkapkannya.





BAB IX
TEKNIK PENGUKURAN
A.    Tingkat-tingkat pengukuran
1.      Skala nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang paling rendah tingkatnya karena dengan skala ini objek penelitian hanya dapat dikelompokan berdasarkan ciri-ciri yang ada pada kelompok lain.
2.      Skala ordinal
Skala ini lebih tinggi tingkatannya atau lebih baik dari skala nominal karena selain mempunyai ciri-ciri yang sama dengan skala nominal, yaitu dapat menggolongkan objek penelitian dalam golongan-golongan yang berbeda, skala ordinal mempunyai kelebihan daripada skala nominal, yaitu bahwa golongan-golongan atau klasifikasi dalam skala ordinal dapat dibedakan tingkatnya.
3.      Skala interval
Skala ini memiliki ciri yang sama dengan skala ordinal, yaitu dapat membedakan objek penelitian kedalam golongan-golongan yang berjenjang, kelebihan yang dimilikinya adalah bahwa skala interval mempunyai unit pengukuran yang sama sehingga jarak antara satu titik dengan titik yang lain, atau antara satu golongan dengan golongan yang lain, dpat diketahui.
4.      Skala rasio
Skala rasio ini merupakan skala yang tertinggi tingkatnya karena selain mempunyai semua ciri yang dimiliki oleh semua sklala dibawahnya, skala rasio mempunyai titik nol yang sebenaarnya.
B.     Teknik pengukuran
1.      Skala Likert
Skala ini disebut skala likert karena pertama kali di kembangkan oleh Rensis Likert.skala ini disebut juga sebagai method of summated ratings karena nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan dijumlahkan sehingga mendapat nilai total.
2.      Skala Thurstone
Skala ini disebut dengan equal-appearing interval (mempunyai interval yang tampak sama). Skala ini bukan mencari nilai total seperti dalam skala likert, melainkan untuk setiap pernyataan diberi nilai skala tertentu yang menungjukan intensitan pernyataan tersebut.
3.      Skala Guttman
Skala ini diberi nama demikian karena dikembangkan oleh orang yang bernama Louia Guttman. Skala ini disebut juga skala komulatif atau scalogram analysis. Berbeda dengan skala Likert fdan dan skala Thurstone yang mengandung lebih dari satu dimensi, skala Guttman merupan skala satu dimensi (unidimensional scale).
4.      Skala semantic differential
Skala sematic differential pertama kali digunakan oleh Osgood, Suci dan Tannenbaum untuk mengatur arti objek-objek psikologis, social, dan/atau fisik.
C.    Validitas alat ukur
Alat ukur yang dibuat harus dapat mengkur variable yang dimaksudkan untuk diukur, bukan variable lain.
Terdapat tiga cara untuk menentukan validitas suatu alat ukur, yaitu:
1.      Validitas isi atau Validitas tampak
Mengenai validitas ini, ada yang menggunakan istilah validitas isi (content validity) dan ada pula yang menggunakan valitas tampak (face validity).
2.      Validitas progmatik atau validitas berdasarkan kriteria
Validitas pragmatic yang disebut juga sebagai validitas yang berdasarkan kriteria terdiri atas dua macam. Pertama adalah validitas prediktif, yaitu suatu alat ukur dikatakan valid jika hasil dari pengukuran ini sesuai  dengan tingkah laku atau gejala yang diramalkannya. Kedua adalah validitas pada saat bersamaan (concurrent validity). Validitas ini digunakan untuk membuat alat ukur baru karena alat ukur yang lama untuk variable yang sama dianggap terlalu panjang, atau memakan waktu lama untuk menggunakannya, atau tidak praktis.
3.      Validitas konstruk
Terdapat du acara untuk menguji validitas konstruk. Pertama, dengan teknik statistic yang disebut factor analysis. Dengan teknik ini, dapat diungkapkan faktor-faktor yang mendasari butir-butir yang terdapat didalam skala pengukuran berdasarkan factor loading-nya. Cara kedua adalah berdasarkan suatu teori tertentu yang menghubungkan konstruk yang akan diukur dengan konstruk lain yang sudah ada alat ukurnya.
D.    Reliabilitas alat ukur
Terdapat beberapa cara untuk menentukan reliabilitas alat ukur yaitu:
1.      Metode pararel
2.      Metode test-retest (uji ulang)
3.      Metode split-half (belah dua)
4.      Metode Cronbach
E.     Analisis butir (item analysis)
Reliabilitas alat ukur dapat ditingkatkan dengan melakukan analisis butir. Analisis butir ii dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan mencari korelasi antara nilai setiap butir dengan nilai total yang dikurangi nilai butir yang bersangkutan.
Cara kedua adalah dengan discriminating power (daya pembeda atau DP). Dengan cara ini, instrument yang telah diisi disusun menurut besarnya nilai total.
BAB X
PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
A.    Mengedit dan memberi kode
Dalam pengolahan data, yang pertama kali harus dilakukan adalah melakukan editing. Ini berarti bahwa semua kuesioner harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan pengisian dan kejelasan penulisannya.
B.     Lembar ringkasan dan tabulasi
     Setelah kode-kode dibuat, langkah selanjutnya adalah melakukan tabulasi, yaitu membuat tabel-tabel sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.lembar rinngkasan ini terdiri atas kolom-kolom dan baris-baris. Kolom pertama yang terletak paling kiri digunakan untuk nomor urut atau kode responden. Kolom kedua dan selanjutnya digunakan untuk variabel-variabel yang terdapat dalam kuesioner. Baris-baris digunakan untuk setiap responden.
     Proses tabulasi ini akan dipermudah dan sangat dipercepat apabila pengolahan analasis data menggunakan komputer.jika data sudah dimasukkan dalam bentuk yang sejalan dengan lembaran ringkasan tersebut di atas, maka tabel apapun yang diperlukan, termasuk tabel-tabel silang, dapat segera dihasilkan.
C.    Analisis data
     Analisis data yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran cukup menyajikan tabel tunggal dengan jumlah dan persentase untuk setiap kategori. Pembuatan klasifikasi itu sendiri sudah merupakan analisis pada tingkat pertama. Untuk analisis lain, seringkali diperlukan tabel silang atau tabel ganda. Untuk data kuantitatif, misalnya umur dan penghasilan, selain menyajikan data dalam tabel dengan kelas interval, perlu juga disajikan statistiknya, seperti mean dan simpangan bakunya. Ini untuk menunjukkan angka berapa yang menjadi wakil bagi kelompoknya secara keseluruhan, dan bagaimana variasinya.





BAB XI
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A.    Isi laporan
Penulisan laporan penelitian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) apa yang menjadi masalah penelitian, (2) bagaimana penelitian dilaksanakan, (3) apa hasil penelitiannya, dan (4) apa makna dan implikasi penelitian.
Kerangka laporan penelitian dapat mengikuti sistematika sebagai berikut:
BAB I      PENDAHULUAN
A.  latar belakang
B.   masalah penelitian
C.   tujuan dan manfaat penelitian
BAB II     METODE PENELITIAN
A.  Hipotesis
B.   Definisi operasional
C.   Metode dan rancangan penelitian
D.  Populasi dan sampel
E.   Teknik pengumpulan data
F.    Analisis data
BAB III   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.  Data deskriptif
B.   Analisis data
C.   Pembahasan
BAB IV   KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
B.   Saran
Untuk penulisan sebuah skripsi, tesis, dan disertasi, perlu ditambah satu bab lagi sebelum metode penelitian, yaitu bab tentang tinjauan pustaka. Untuk penulisan laporan penelitian dalam suatu jurnal, sistematikanya mengikuti kerangka sebagai berikut:
Pendahuluan
Metode
Hasil penelitian
Pembahasan
Kesimpulan

B.     Tata cara penulisan
Cara menulis laporan penelitian perlu mengikuti suatu aturan yang telah diterima di kalangan ilmuwan.
Cara yang lebih praktis, baik menggunakan mesin tulis biasa maupun pengolah kata, adalah model yang ditetapkan oleh APA.
Model APA tidak menggunakan catatan kaki seperti dalam model Turabian, tetapi setiap referensi ditunjukkan oleh nama penulis dan tahun penerbitan.
Dengan model APA ini, kunci referensinya adalah pada daftar pustaka. Oleh karena itu, penunjukkan referensi dalam uraian dan daftar pustaka harus bersesuaian.
Cara penulisan sumber referensi pada daftar pustaka membedakan sumber yang berbeda. Suatu bab dari buku yang diedit dicantumkan secara berbeda dari buku yang ditulis oleh seorang penulis. Berikut ini disajikan contoh penulisan dalam daftar pustaka untuk sumber dari jurnal, buku, buku terjemahan, dan bab dari buku yang diedit.
Malo, M., & Dewi Susanto. 1980. “Survey Wisatawan Asing”. Dalam JurnalPEnelitian Sosial, 4(8), hlm. 78-118

Endang Purwaningsih. 1982. “Pemenuhan Kebutuhan Perumahan di Perumnas Klader”. Dalam Mulyanto Sumardi & Hans-Dieter Evers (Ed.), Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok, hlm. 219-292. Jakarta: Rajawali.

Daily activity